Mengenal Sosok KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum MUI Periode 2020-2025

  • Whatsapp
Ketua Umum MUI Periode 2020-2025 KH Miftachul Akhyar (Indiespot.id/Istimewa)

Indiespot.id-Medan. KH Miftachul Akhyar terpilih menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020-2025 menggantikan KH Ma’ruf Amin. Penetapan tersebut dihasilkan secara mufakat oleh tim formatur Musyawarah Nasional (Munas) X MUI di Jakarta, Kamis (26/11) malam.

“Suasananya sangat cair, tidak alot, sehingga alhamdulillah pertemuan hasilkan keputusan Dewan Pengurus Harian dan Dewan Pertimbangan. Hasilnya tidak boleh diganggu gugat,” kata Ma’ruf melalui siaran pers pada Jumat (27/11).

Bacaan Lainnya

Siapakah KH Miftachul Akhyar? Namanya sudah tidak asing lagi kalangan NU, terutama Nahdliyin dan kalangan pesantren Jawa Timur. Di NU sendiri, beliau pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya 2000-2005, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur 2007-2013, 2013-2018, serta Wakil Rais Aam PBNU 2015-2020 yang selanjutnya didaulat sebagai Pj. Rais Aam PBNU 2018-2020, di Gedung PBNU, pada hari Sabtu, 22 September 2020 lalu.

Musyawarah Nasional (Munas) X Majelis Ulama Indonesia (MUI) (Indiespot.id/Instagram: muipusat51)

Kiai Miftah, sapaan akrabnya, lahir pada tanggal 1 Januari 1953, merupakan anak kesembilan dari 13 bersaudara. Beliau lahir dari tradisi dan melakukan pengabdian di NU sejak usia muda. Ia adalah putra Pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah KH Abdul Ghoni.

Menurut catatan PW LTNNU Jatim Ahmad Karomi, dikutip dari NUOnline, genealogi keilmuan Kyai Miftah tidak diragukan lagi. Beliau tercatat pernah nyantri di Pondok Pesantren Tambak Beras, Pondok Pesantren Sidogiri (Jawa Timur), Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah, serta mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al- Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia.

Menurut Karomi, penguasaan ilmu agama KH Miftachul Akhyar ini membuat kagum Syekh Masduki Lasem sehingga beliau diambil menantu oleh Kiai yang terhitung sebagai mutakharrijin (alumnus) istimewa di Pondok Pesantren Tremas.

Kemudian KH Miftachul Akhyar mendirikan Pondok Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan mulai dari nol. Awalnya ia hanya berniat mendiami rumah sang kakek, tetapi setelah melihat fenomena pentingnya “nilai religius” di tengah masyarakat setempat, maka mulailah beliau membuka pengajian.

“Konon, kampung Kedung Tarukan terkenal sejak lama menjadi daerah yang tidak ramah pada dakwah para ulama. Namun berkat akhlak dan ketinggian ilmu yang dimiliki KH Miftachul Akhyar, beliau berhasil mengubah kesan negatif itu sehingga kampung yang “gelap” menjadi “terang dan sejuk” seperti saat ini dalam waktu yang relatif singkat,” tulis Karomi.

Kesederhanaan KH Miftachul Akhyar yang terekam dengan jelas adalah bentuk penghormatan terhadap tamu. Kiai Miftah diketahui tidak pernah segan-segan menuangkan minuman dan menyajikan cemilan kepada tamunya.

“Akhlak ini beliau dapat dari ayahandanya, KH Abdul Ghoni,” imbuhnya. (EA)