Mengenal Apa Itu Xenophobia dan Cara Mengatasinya

  • Whatsapp
Mengenal Apa Itu Xenophobia dan Cara Mengatasinya
(Indiespot.id/Pixabay)

Indiespot.id-Medan. Tagar #Xenophobia sempat menjadi trending di Twitter beberapa waktu lalu bersamaan dengan tagar #ProtectJisoo. Hal tersebut berkaitang dengan personil BLACKPINK, Jisoo yang dihujat warganet lantaran tidak fasih berbahasa Inggris seperti personil lainnya.

Lalu, apa itu sebenarnya Xenophobia?

Dikutip dari Very Well Mind, Xenophobia (Xenofobia) adalah ketakutan terhadap orang asing atau dalam istilah yang lebih luas adalah ketakutan terhadap seseorang yang berbeda dari kita. Sementara, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Xenophobia diartikan sebagai perasaan benci (takut, waswas) terhadap orang asing atau sesuatu yang belum dikenal; kebencian pada yang serba asing.

Xenophobia sering disamakan dengan rasisme dan homofobia. Padahal istilah-istilah tersebut memiliki perbedaan penting. Jika homophobia dan rasisme didasari oleh diskriminasi akan karakteristik tertentu secara spesifik, xenophobia lebih umum, yakni berakar dari persepsi bahwa seseorang di luar kelompok adalah adalah orang asing.

Karakteristik xenophobia

Orang-orang yang memiliki Xenophobia biasanya dapat dilihat dari kecenderungannya dalam berperilaku, seperti:

  • Merasa tidak nyaman di sekitar orang-orang yang termasuk dalam “kelompok” yang berbeda.
  • Berusaha keras untuk menghindari area tertentu.
  • Menolak berteman dengan orang lain hanya karena warna kulit, cara berpakaian, atau faktor eksternal lainnya.
  • Kesulitan berhubungan dengan rekan yang tidak termasuk dalam kelompok ras, budaya, atau agama yang sama.

Padahal, kebanyakan orang xenofobia sebenarnya tidak benar-benar fobia. Sebaliknya, istilah tersebut paling sering digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang mendiskriminasi orang asing dan pendatang.

Jenis xenophobia

  • Xenofobia budaya: Jenis ini melibatkan penolakan dengan objeknya adalah tradisi, atau simbol yang terkait dengan kelompok atau kebangsaan lain. Ini dapat mencakup bahasa, pakaian, musik, dan tradisi lain yang terkait dengan budaya.
  • Xenofobia imigran: Jenis ini melibatkan penolakan orang-orang yang tidak dipercayai oleh individu xenofobia dalam masyarakat kelompok mereka. Hal ini dapat mencakup penolakan orang dari agama atau kebangsaan yang berbeda dan dapat mengarah pada penganiayaan, permusuhan, kekerasan, dan bahkan genosida.

Lantas, bagaimana hubungannya dengan kasus Jisoo BLACKPINK?

Jisoo BLACKPINK (Indiespot.id/Instagram: sooyaaa_)

Ketidakmampuan Jisoo dalam berbahasa Inggris yang baik memicu sekelompok orang untuk mencela dan melakukan perundungan. Padahal ia sendiri merupakan penduduk asli Korea Selatan, yang lahir dan besar di sana tidak seperti member BLACKPINK lainnya. Seharusnya itu menjadi hal wajar jika Jisoo tidak fasih menggunakan bahasa Inggris.

Namun, golongan orang yang merasa bahwa kemampuan bahasa Inggris adalah kemampuan dasar bagi semua orang merasa terdapat sesuatu yang aneh pada Jisoo BLACKPINK yang tidak sefasih member segrupnya dalam berbahasa Inggris.

Dari situlah, mereka menebar Xenophobia yang ada pada diri mereka dan merundung seseorang yang dia anggap di luar dari grup mereka.

Menghilangkan xenophonia dari dalam diri

Untuk mengurangi atau menghilangkan sikap xenophobia, hal yang pertama harus kamu lakukan adalah membuka pikiranmu jika dunia ini penuh keragaman. Kamu bisa memperluas pengalamanmu dengan mempelajari budaya baru, tak melulu harus datang ke tempatnya langsung kamu bisa mempelajarinya lewat internet.

Selain itu, kamu harus melawan rasa takutmu terhadap sesuatu yang baru atau hal yang kamu anggap bukan bagian dari dirimu sendiri. Jika rasa takut itu tetap ada, coba alihkan pikiran tersebut dan berpikir lebih realistis.

Namun, jika kamu rasa kamu sudah di tingkat yang sulit diatasi bahkan setelah melakukan hal yang telah disebutkan sebelumnya, tidak ada salahnya menemui psikolog atau psikiater.

Carilah psikolog atau psikiater yang cenderung berpikiran terbuka dan memang tertarik untuk menangani perilaku xenophobia. Biasanya terapi yang akan diberikan dokter adalah terapi perilaku kognitif hingga pemberian obat-obatan untuk meredakan kecemasan. (EA)