Klaster Baru, 39 Tahanan dan Narapidana di Sumut Terkonfirmasi Positif Corona

  • Whatsapp

Indiespot.id-Medan. Rutan dan lapas menjadi klaster baru penyebaran Covid-19 di Sumatra Utara. Sebanyak 39 tahanan dan narapidana di Sumut terkonfirmasi positif corona, di mana 26 orang di antaranya telah sembuh dan 1 orang meninggal dunia.

Kadiv Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Sumut Pujo Harinto mengatakan, klaster terbesar saat ini berada di lapas di Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias.

Bacaan Lainnya

“Karena keterbatasan rumah sakit di sana, sehingga warga binaan kami yang 27 juga diisolasi di dalam (Lapas),” ujar Pujo kepada wartawan, Selasa (27/10).

Meski demikian, saat ini tersisa satu warga binaan yang belum sembuh di lapas tersebut. Selanjutnya, di Lapas Gunung Sitoli, Nias Selatan terdapat 9 narapida yang terpapar Covid-19 dan dua warga binaan di Labuhan Deli juga dinyatakan positif corona.

Sementara di Lapas Medan 1, narapidana bernama Tamin Sukardi (77) yang merupakan konglomerat asal Medan meninggal karena corona. Pujo sendiri mengaku terkejut dengan meninggalnya napi tersebut.

“Langsung saya perintahkan Pak Kalapas coba tolong didalami. Sumber penyebabnya apakah dari dalam, apakah pada saat yang bersangkutan dirawat di RS (rumah sakit) di luar,” tuturnya.

Pujo mengatakan sebelum meninggal, napi tersebut sempat dirawat selama 21 hari di dua rumah sakit berbeda, yakni Rumah Sakit Bandung, Medan dan Royal Prima Medan.

“Dan di Royal Prima lah pada hari ke-21 yang bersangkutan meninggal dunia,” ujar Pujo.

Berdasarkan rekam medisnya, Tamin memang memiliki penyakit bawaan, seperti diabetes, kolesterol hingga jantung. Lalu saat dibawa ke rumah sakit kata Pujo, hasil rapid test napi tersebut non reaktif, sehingga menurutnya kemungkinan Tamin tertular di Lapas, kecil.

“Selama di luar kita tidak tahu pergerakannya di mana saja. Walaupun (kita) selalu sosialisasi untuk tidak pergi kemana mana, memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Tapi orang-orang ini kan, ada yang nurut, ada yang tidak nurut,” ujar Pujo

Namun kemungkinan tertular dari dalam tetap ada. Misalnya dari petugas jaga yang sehari harinya berada di dalam lapas. Karena itu kata Pujo, sangat dimungkinkan petugas lapas membawa virus, terlebih bila terinfeksi dengan status orang tanpa gejala (OTG).

“Sementara napi di dalam banyak yang kurang bagus fisiknya, akhirnya, bisa saja tertular,” ujar Pujo

Pujo juga merinci dari data sementara ada 11 pegawai di lapas maupun rutan yang terpapar corona. Di antaranya 6 orang di Lapas Teluk Dalam Nias, lalu 3 orang di Lapas Medan. Kemudian seorang pegawai penjara di Lubuk Pakam, Deli Serdang dan di Rutan Labuhan Deli.

Mayoritas para pegawai yang terpapar corona berstatus OTG dan sudah sembuh. Hanya tinggal menjalani isolasi mandiri

Terkait lapas dan rutan yang penghuninya positif corona Pujo mengatakan telah melakukan penyemprotan disinfektan sebanyak 2 kali seminggu, para napi yang kontak erat pun sudah menjalani rapid maupun swab test.

Namun untuk pencegahan lebih lanjut, kata Pujo sulit mengantisipasinya. Karena di dalam lapas sulit menerapkan 3M sekaligus, yakni menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker. Kondisi ini terjadi lantaran lapas melebihi kapasitas.

“Hanya menjaga jarak itu yang tidak bisa. Karena kamar yng harusnya 15 orang bisa 30 orang. Bisa 40 orang seperti itu. Sehingga 2M (mencuci tangan dan memakai masker) saja. Itulah mengapa kemungkinan klaster warga narapidana itu akan tinggi karena berdesakan di dalam,” ujar Pujo

Sementara itu untuk menghalau virus corona dari luar pihaknya telah melakukan berbagai upaya.

“(Mulai) Mengimbau, mengawasi hingga menindak tegas pegawai yang tidak memakai masker ataupun tidak masuk bilik steril pada saat masuk Lapas,’’ pungkasnya. (EA)