Implementasi program ‘Merdeka Belajar’ kepada kampus atau universitas yang dicanangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, diharapkan dapat diintegrasi dengan kearifan lokal di wilayah tersebut.
Pengamat pendidikan Prof Dr M Arif Nasution menilai, program tersebut ketika dijalankan, haruslah berpijak kepada potensi lokal terutama yang berada di wilayah terpencil yang memiliki spesifik budaya.
“Harus dilihat adalah sejauh mana para mahasiswa itu aktif untuk mengetahui dan mengidentifikasi potensi di daerahnya serta kearifan lokal yang dikembangkan menjadi suatu program yang nantinya dikembangkan menjadi program studi khusus bagi daerah tersebut. Dan ini disesuaikan dengan konsep ‘Merdeka Belajar’ yang dirancang Mendikbud,” ujar Arif dikutip dari laman VOA Indonesia.
Kata Arif, kebijakan ini tentunya lebih fleksibel dengan menyesuaikan bobot potensi kearifan lokal, sehingga dapat menjadi suatu program yang ideal di daerah tersebut.
“Selanjutnya, kerja sama dengan pihak institusi pemerintahan untuk mengembangkan potensi dan kearifan lokal sebagai bentuk nyata daripada sebenarnya ini adalah kelanjutan dari program link and match tentu ini lebih luas lagi,” ungkap Guru besar Universitas Sumatera Utara (USU) tersebut.
Adapaun hambatan yang dihadapi, Arif mengatakan perlu adanya kerjasama PTS dan PTN dengan penyedia jaringan telekomunikasi, sehingga infrastruktur jaringan telekomunikasi dapat secara berkesinambungan mendukung disseminasi informasi dan teknologi dalam rangka program Merdeka Belajar.
Berbicara output, setiap mahasiswa diharapkan dapat menjadi SDM yang memiliki ilmu dan keterampilan yang dapat mendukung potensi dan kearifan lokal di daerah terpencil tersebut.
Adanya keterpaduan potensi dan kearifan lokal daerah tersebut, dengan pengelolaan secara digital dan professional.
“Pengelolaan konsep lingkungan pertanian, peternakan dan perikanan di Sumut yang sudah menjadi budaya masyarakat setempat dikawinkan dengan konsep modernisasi revolusi industry 4.0 dalam pengelolaan dan konsep e-commerce,” tambah Arif.
*****
Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim berbicara terkait Reformasi Pendidikan Nasional, Nadiem menjelaskan konsep “Merdeka Belajar”, universitas atau kampus yang berada di daerah terpencil lebih bebas dalam menentukan kurikulum atau program studi yang lebih relevan.
“Tidak semua pengajaran bisa terjadi di dalam kampus. Tapi pembelajaran bisa dilakukan di berbagai macam institusi lainnya baik industri, non profit dan exchange,” kata Nadiem, dalam video kuliah umum. Selasa (5/5).
Nadiem juga tidak menampik jika adanya tantangan, soal pembiayaan teknologi yang menjadi pertimbangan tersendiri bagi para universitas dan harus dicari solusinya.
Konsep Merdeka Belajar dapat diterapkan di wilayah terpencil asal memiliki akses Internet. Konsep ‘Merdeka Belajar’ itu adalah suatu opsi kemerdekaan. Artinya dia punya opsi pembelajaran lewat online, di luar kampus, dan melakukan aktivitas kurikulum yang bukan hanya akademis tapi juga praktis.
“Jadi ini diberikan opsi dan kebebasan bukan dipaksa. Kalau dipaksa bukan merdeka namanya,” ujar Nadiem. (E4)






