INDIESPOT.ID, Medan – PIALA DUNIA yang lebih keren disebut banyak orang ‘World Cup’ menjadi ajang bergengsi perhelatan empat tahunan turnamen sepak bola dunia terbesar di jagad raya. Tahun 2022 ini, Qatar oleh FIFA (Federation Internationale de Football Association), induk organisasi sepak bola dunia itu, ditunjuk menjadi tuan rumah putaran final ke-22 Piala Dunia yang memperebutkan Tropi Piala Dunia FIFA yang dulunya (Tahun 1930-1970) disebut Tropi Piala Jules Rimet.
Turnamen yang berlangsung di lima kota terbesar di Qatar itu dijadualkan pada 20 November hingga 18 Desember 2022, diikuti 32 peserta/negara (dari 5 konfederasi) yang bergabung di FIFA. Ada kondisi yang berbeda mewarnai World Cup 2022 tahun ini. Masih terjadinya konflik politik Internasional di beberapa negara. Sebut saja, perang antara Rusia dan Ukraina yang kita liat di media massa, masih berkecamuk. Sejumlah negarapun sangat serius mewaspadai ancaman perang tersebut. Imbasnya berdampak pada ekonomi global yang mulai mengalami resisi. Tidak saja negara-negara kecil dan berkembang di benua Afrika, Asia dan benua Amerika yang mengalaminya, tapi juga negara-negara maju yang dikenal perekonomiannya mapan seperti Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa mengalami inflasi tinggi alias ekonominya ‘terseok-seok’.
Sudah menjadi kebiasaan, menjelang Piala Dunia, minimal sebulan sebelum turnamen yang menyedot perhatian puluhan juta pemirsa/penonton baik langsung menyaksikannya di stadion maupun di siaran televisi itu, sudah sangat terasa auranya. Di mana-mana, geliatnya dan semaraknya biasanya terasa dan tampak jelas. Baik di pelosok kampung/desa, pesisir pantai hingga di kota-kota besar. Di warung kopi tradisional, rumah makan/restoran, loby hotel sampai kafe-kafe ramai dan semarak. Ya, semua orang membicarakan Piala Dunia. Namun yang kita liat hari ini, seminggu menjelang turnamen ini berlangsung, tampaknya biasa-biasa saja, tidak terlihat aura atau energinya.

Di media massa, baik media lokal, nasional dan media luar negeri, seakan kurang fokus dan kurang energinya dalam melaporkan dan mengupas suasana World Cup 2022. Paling tidak, ada analisis dari pengamat sepak bola, begitu juga liputan, laporan dan komentar para tokoh masyarakat sepak bola, penghobi si ‘kulit bundar’ ini, terhadap tim/kesebelasan yang bertanding di setiap grup, siapa saja negara yang dijagokan lolos ke babak berikutnya hingga sampai ke babak Semi Final dan Final bahkan yang berpeluang menjuarai World Cup 2022 ini. Semestinya suasana itu sudah ramai diperbincangankan publik. Informasi terkait Piala Dunia kali ini, yang kita liat cuma sekedar mengekspos ‘stright news’ atau berita seadanya saja.
Ibarat seorang gadis yang dahulunya cantik alamiah. Semarak Piala Dunia Tahun 2022, bisa kita analogikan aura ‘kecantikannya’ mulai berkurang. Mungkin seiring usianya yang sudah makin tua atau disebabkan kondisi ekonomi dan konflik internasional itu. Tampaknya, Aura Piala Dunia 2022 kali ini ‘Tak Seindah’ dulu lagi.” (Muhammad Isya, S.Sos, M.I.Kom).






