Kisah Nurul, Mahasiswi Yatim Piatu, Ngajar Ngaji Demi Ongkos Studi

  • Whatsapp
Syafruddin Pohan (kanan) dosen Ilmu Komunikasi FISIP USU yang telah membagikan kisah mahasiswinya Nurul di akun Facebook pribadinya. (indiespot.id/istimewa)

Indiespot.id-Medan, Syafruddin Pohan, dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara (USU), tengah menunggu mahasiswinya di ruang kerjanya. Mahasiswi yang ia maksud, telah berjanji kepadanya akan menemuinya untuk menyerahkan tugas mata kuliah.

Pak Pohan, biasa dirinya disapa, mengatakan telah menunggu kehadiran mahasiswi tersebut sejak dari siang, namun tunggu punya tunggu, tak juga kunjung datang menemuinya. Pak Pohan lantas bergegas untuk pulang karena hari kian sore.

Bacaan Lainnya

Tak lama ia beranjak meninggalkan kampus, sebuah pesan WhatsApp masuk diujung ponsel. “Maaf pak sebelumnya, rental pengetikan dan penjilidan sedang mati lampu,” tulis mahasiswi itu pada pesan singkatnya kepada Pak Pohan.

Sebagai dosen yang cukup Senior, Pak Pohan beranggapan kalau dirinya telah terbiasa dengan sejumlah alasan para mahasiswanya yang dianggap tidak menepati waktu untuk bertemu. “Wah ini modus, pikir saya lama-lama. Sering model (mahasiswa) seperti ini, terjadi di kalangan mahasiswa, beraneka macam dalih kepada dosennya,” ungkapnya.

Tibalah Pak Pohan dikediamannya di Kecamatan Medan Selayang. Lagi-lagi sebuah pesan berbunyi dari smartphone. Saat dibuka, pesan itu berisi sebuah pertanyaan dari mahasiswi yang sedari siang telah ditunggu Pak Pohan kehadirannya.

“Boleh minta alamat rumahnya pak, saya ingin kerumah mengantarkan tugas saya,” ujar Mahasiswi itu. Pak Pohan sempat mengaku heran, ia mengatakan biasanya, orang zaman sekarang minta alamat canggih, biasa pakai fitur Share Location. Tapi berbeda dengan mahasiswi itu, ia minta alamat saja.

Setelah menunggu hampir setengah jam, Mahasiswi itu juga belum nongol. Pak Pohan pun merasa letih karena seharian beraktivitas di kampus. Ia pun akhirnya memutuskan menuju kamar untuk istirahat.

“Saya tidur terlelap, sampai akhirnya istri bilang ada mahasiswa datang. Sungguh mata masih terpejam, tapi sayup terdengar ‘Ayah bangunlah jumpai sebentar. Ada mahasiswa nya nunggu, dia naik sepeda, kata istri saya memanggil,” kata Pak Pohan.

Sontak, dirinya lalu bangkit dari tidur dan menuju ke luar. Ternyata benar Mahasiswi yang ditunggu itu akhirnya datang juga, dengan menuntun sepedanya. Pak Pohan lalu mempersilahkan dirinya untuk masuk ke rumahnya.

Ngajar Ngaji Demi Ongkos Studi

Berawal dari obrolan mahasiswi itu kepada Pak Pohan, cerita harus itu pun mulai terkuak, mengapa tidak tepat waktu, apa yang terjadi sebenarnya. Mahasiswi itu pun bercerita mengenai kisah yang terjadi sebenarnya.

Mahasiswi itu adalah Nurul, ia mengatakan dirinya tinggal di Kecamatan Tembung, sekitar 1,5 jam jarak yang ditempuh untuk dapat sampai ke rumah Pak Pohan dengan mengayuh sepeda. Nurul berkisah kalau sejak kelas 4 SD, dia sudah menjadi anak yatim. Ayahnya meninggal karena penyakit diabetes.

“Beberapa tahun berselang ibunya meninggal karena kanker. Jadilah Nurul sekarang yatim piatu dan tinggal bersama keluarganya se ayah dan seibu,” tulis Pak Pohan di akun Facebook-nya.

Keterbatasan biaya, membuat Nurul harus mencari penghasilan tambahan dengan mengajar mengaji di kampungnya, demi menyelesaikan tahap akhir studinya di Ilmu Komunikasi USU. Uang yang diperolehnya dari mengajar ngaji juga dibilang tidak banyak.

“Nurul tinggal sama abang dan kakaknya ekonomi-nya juga nggak bagus. Pendidikan juga nggak bagus, malah dia disuruh berhenti kuliah, Saya heran kenapa nggak kuliah, saya kira dia pemalas atau apa, rupanya karena itu (soal tidak ada ongkos), bisa berbulan-bulan gitu,” tambahnya.

Dari kisah Nurul itu, Syafruddin Pohan mengaku memetik hikmah, bahwa masih banyak diluar sana mahasiswa yang tidak mampu namun perlu dibantu dengan kesungguhannya untuk berkuliah.

“Semoga nasib baik berpihak kepadamu Nurul. Maafkan bapak ya Nurul. Terima kasih Nurul, karena sudah membuka, topeng betapa kerasnya, hidup ini,” tutup Pak Pohan, mengakhiri ceritanya. (E4)