Indiespot.id-Medan, Pernah berada di sebuah momen merasakan kenyamanan dan kebahagiaan nikmat hubungan. Dua insan saling melengkapi dengan segala kekurangan yang ada.
Jalinan hubungan kian terasa menyenangkan, hari-hari berasa lebih berwarna dengan kebahagiaan, inikah hubungan yang sempurna itu aku rasa. Sepenuhnya dilakukan penuh cinta.
Tapi seperti halnya kebahagiaan, kenyamanan itu tak pernah bertahan lama. Sementara perasaan hancur setelahnya, sama seperti kesedihan yang bergerak dalam senyap. “Ghosting” menghilang dan ditinggal pas lagi sayang-sayangnya mungkin frasa kekinian yang cukup mewakili.
Pergi tanpa pernah berpamitan, bukan sebuah cara yang pecundang? Meninggalkan beribu luka berbalut kesedihan. Sedih memang, banyak yang menyarankan untuk move on, namun tidaklah sesederhana itu, sebab jika mengutip dari kata-kata bijak, cinta itu seperti sebuah janji dan kesetiaan adalah bukti.

Pascaditinggal, seperti orang yang tidak berdaya dan penuh kegalauan
Hanya pikiran buruk yang menghantui, bagaimana bisa dia menghilang tanpa memberi alasan dan juga kata perpisahan. Mungkin saat pergi untuk meninggalkan, tak terbesit bagaimana ada hati yang sedang disakiti sebab hati itu bernyawa dan memiliki rasa. Seperti sebuah kata bijak mengatakan, “setiap hal yang punya rasa selalu punya nyawa,”.
Tak melulu menyalakan dia dengan Keputusannya, akan tetapi pertanyaan tanpa jawaban akan terus menghantui.
Berkali-kali saya berusaha berdamai dengan kenyataan. Barangkali dia menghilang dengan berbagai pertimbangan. Barangkali, kepergiannya memang untuk kebaikan kami berdua. Tapi itu ternyata itu semua artifisial saja. Jauh di dalam benak, saya masih sering bertanya “Mengapa ia pergi? Kesalahan apa yang sudah saya lakukan? Apakah saya sebegitu tak berharganya bahkan untuk sekadar kalimat perpisahan?”
Namun di saat yang bersamaan, saya juga tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sebab dia yang telah hilang lah yang memegang jawabnya. Ambiguitas yang sangat pelik ini pada akhirnya mengharuskan saya menyalahkan diri sendiri. Mungkin benar apa yang ditulis tirto.id, Jennice Vilhauer dalam tulisannya di Psychology Today mengatakan bahwa, orang yang diputuskan dengan cara “ghosting” akan mengalami perasaan batin lebih dari sekadar stres, merasa kesepian, depresi dan marah yang tak berkesudahan.

Mungkin bisa saja terlihat tegar, namun sebenarnya ada luka yang tak akan pernah pudar
Beberapa hari, bulan dan tahun mungkin akan kembali kepada kehidupan normal. Melakukan aktivitas yang positif akan semakin melupakan momen pahit tersebut. Namun siapa sangka ternyata masi ada luka yang masih belum hilang.
Rasa trauma akan kegagalan dimasa datang, tentu akan terus menghantui perjalanan hubungan percintaan yang dibangun. Tentunya menjadi hal yang menyakitkan jika sampai terjadi lagi, terkhusus mereka yang memiliki kepercayaan rendah. (E4)






