WHO Umumkan Virus Ebola Kembali di Republik Kongo, Berikut Gejalanya

  • Whatsapp
(Indiespot.id/Pexels)

Indiespot.id-Medan. Belum selesai dengan wabah virus Corona, dunia kembali digemparkan dengan kabar merebaknya kembali penyakit Ebola. World Health Organization (WHO) melaporkan adanya wabah baru virus Ebola di Wangata, Mbandaka, Provinsi Equateur, Republik Demokratik Kongo.

Ebola Virus Disease (EVD) atau Ebola haemorrhagic fever merupakan penyakit dengan tingkat kematian yang tinggi. Penyakit ini menginfeksi manusia dan primata, serta kerap berujung pada kematian. WHO menyebutkan angka mortalitas penyakit Ebola berada pada kisaran 50 persen, tepatnya antara 25 hingga 90 persen.

Bacaan Lainnya

Hingga 1 Juni kemarin, Kementerian Kesehatan Kongo mengungkapkan terdapat enam kasus Ebola yang terdeteksi di Wangata, empat orang dinyatakan meninggal dunia dan dua lainnya dalam perawatan. Kematian tersebut terjadi sejak 18-30 Mei, namun baru terkonfirmasi disebabkan oleh Ebola kemarin. Peristiwa ini merupakan kali ke-11 penyakit ebola telah merebak di Kongo.

Matshidiso Moeti, Direktur Regional WHO untuk Afrika menyebutkan badan kesehatan dunia tersebut akan mengirimkan tim untuk mendukung peningkatan respons. “Meskipun perhatian kita banyak tertuju pada pandemi (COVID-19), WHO terus memantau dan menanggapi banyak keadaan darurat kesehatan lainnya,” kata Tedros.

Gejala Ebola

Sama seperti Covid-19, ebola merupakan penyakit zoonosis yang ditransmisikan dari satwa liar. Dikutip dari situs resmi WHO pada Selasa (2/6/2020), periode inkubasi ebola memiliki interval walktu 2-21 hari. Seorang yang terinfeksi virus ebola tidak bisa menularkan penyakitnya kepada orang lain sebelum ada gejala yang timbul.

Adapun gejala yang timbul akibat virus Ebola adalah demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Kelima gejala tersebut kemudian diikuti dengan muntah, diare, ruam, gejala kerusakan ginjal dan fungsi hati, dalam beberapa kasus, pendarahan internal dan eksternal (misal pendarahan pada gusi) dan jumlah sel darah putih yang rendah serta peningkatan enzim hati.

Pengobatan dan Vaksin Ebola

Pasien yang menderita penyakit ebola harus mendapat perawatan medis, seperti pemasangan infus, obat darah tinggi untuk menurunkan tekanan darah, transfusi darah untuk penderita anemia, oksigen tambahan untuk menjaga aliran oksigen ke seluruh tubuh.

Sampai saat ini, belum ada pengobatan spesifik untuk penderita ebola. Namun ada beberapa perawatan potensial seperti terapi imun, sel darah, dan obat yang tengah dievaluasi.

Untuk vaksin, sampai saat ini belum ditemukan vaksin resmi. Namun pada 2015, vaksin eksperimental ebola dikembangkan di Guinea. Vaksin bernama rVSV-ZEBOV itu diuji kepada 11.841 orang. Dari 5.837 orang yang menerima vaksin, tidak ada kasus ebola ditemukan selama 10 hari dan setelahnya. (EA)

Pos terkait