Restoran McDonalds di Sarinah Thamrin, Jakarta akan ditutup permanen pada 10 Mei 2020. Waralaba cepat saji tersebut mengumumkan langsung di akun Instagram resminya, pada Jumat (8/5).
Diketahui, McDonalds Sarinah Thamrin merupakan gerai McDonalds pertama di Indonesia. Gerai pertama asal AS ini dibuka pertama kali pada tahun 1991. Artinya sudah mencapai 29 tahun.
“Atas permintaan manajemen gedung Sarinah melalui surat resmi tertanggal 30 April 2020, mereka akan melakukan renovasi dan akan melakukan perubahan strategi bisnis. Maka dengan berat hati kami akan menutup pintu McDonalds Sarinah Thamrin secara permanen mulai Minggu 10 Mei 2020, jam 10.05 malam,” Tulisnya dalam akun Instagram McDonaldsid.
Kabar perpisahan tersebut juga membuat sejumlah pelanggan McDonalds Sarinah ikut berkomentar mengenai penutupan tersebut.
“Gak ada tempat PDKT sampai subuh yang selalu asik tempat ini, gonna miss this place,” tulis akun milik lucia_nmariana.
“Banyak cerita, dari nemu pertemanan sampe drama di tempat ini, Thankyou for all the memories,” ungkap pemilik akun mariogeren.
Kedatangan Petinju Muhammad Ali

Cerita kenangan manis McDonalds Sarinah, juga datang dari atlit dunia. Petinju legendaris Muhammad Ali, ternyata pernah mentraktir sekitar 100 orang Jakarta di McDonald’s Sarinah, saat di sela-sela kunjungannya ke Indonesia pada tahun 1996 untuk misi kemanusiaan.
“Pada suatu pagi pukul 07.00 WIB, Muhammad Ali tengah merasa lapar dan memutuskan untuk mencari restoran yang tidak jauh dari tempat menginapnya, Hotel Hilton. Ali bersama Yank Barry dan kawan lainnya mendatangi McDonald’s di kawasan Sarinah Thamrin,” tulis Yank Barat, founder Global Village Foundation yang juga teman dekat Ali, dikutip dari laman Indosoport.
Ali juga sempat menanyakan kepada Yank, apakah dirinya membawa uang yang cukup, lantas Yank menjawab “Ya”. Lantas Ali mengajak semua orang yang tengah mengerumuninya untuk memesan kepada kasir.
“Ayo sarapan! Saya yang traktir semua,” teriak Ali.
Alhasil ada 100 orang yang ikut memesan traktiran Ali, adapun total yang harus dibayar mencapai 180 dollar AS, sementara Yank hanya membawa 130 dollar AS.
Yank pun akhirnya harus mencari bank terdekat untuk menarik uang 50 dollar AS, karena pada tahun itu belum ada mesin ATM debit tersedia. (E4)






