Tugas Wilayah (Satgaswil) Riau Densus 88 Antiteror Polri menggelar sosialisasi pencegahan penyebaran paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstrimisme, dan Terorisme (IRET) serta Nihilistic Violent Extremism (NVE) kepada 1.027 siswa SMA Santa Maria Pekanbaru, Senin (27/7/2026).
Kegiatan bertajuk RATAKAN (Riau Tangkal Ancaman dan Kembangkan Nilai Kebangsaan) itu digelar bersamaan dengan upacara bendera. Personel Unit Cegah Satgaswil Riau bertindak sebagai pembina upacara sekaligus memberikan edukasi kepada para pelajar mengenai bahaya penyebaran paham ekstrem di lingkungan pendidikan.
Selain diikuti sekitar 1.027 siswa, kegiatan juga dihadiri 56 guru serta
Kepala SMA Santa Maria Pekanbaru, Ch. Mulyani Agus Kurniaty, S.Pd.
Kepala Satgaswil Riau Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Pol Sunadi, mengatakan kegiatan RATAKAN merupakan bagian dari strategi pencegahan yang mengedepankan pendekatan edukatif melalui kolaborasi dengan dunia pendidikan.
“Pelajar merupakan aset bangsa yang harus dibekali kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi intoleransi, radikalisme, ekstremisme, maupun terorisme. Pencegahan harus dilakukan sejak dini melalui penguatan nilai-nilai kebangsaan dan literasi digital,” kata Sunadi.
Menurut dia, perkembangan teknologi informasi membuat pola penyebaran paham ekstrem semakin berubah. Jika sebelumnya dilakukan melalui pertemuan langsung, kini propaganda lebih banyak memanfaatkan media sosial, permainan daring (online game), hingga berbagai platform digital yang akrab dengan kehidupan generasi muda.
Karena itu, Sunadi mengingatkan para pelajar agar lebih bijak dalam menggunakan media digital, tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, serta berani menolak setiap ajakan yang mengarah pada kebencian maupun kekerasan.
“Kami ingin membangun daya tangkal generasi muda. Mereka bukan hanya menjadi sasaran pencegahan, tetapi juga menjadi agen perdamaian yang mampu menyebarkan nilai toleransi di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat,” ujarnya.
Dalam sosialisasi tersebut, personel Satgaswil Riau juga memberikan pemahaman mengenai ciri-ciri penyebaran paham IRET dan NVE serta pentingnya peran pelajar dalam melakukan deteksi dini apabila menemukan indikasi penyebaran paham tersebut di lingkungan sekitar.
Kegiatan yang mengusung tema “Sekolah Damai Tanpa Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, Terorisme (IRET), dan Nihilistic Violent Extremism (NVE)” berlangsung interaktif. Para siswa dan guru terlihat antusias mengikuti materi, berdiskusi, serta mengajukan berbagai pertanyaan kepada narasumber.
Sunadi menegaskan, kolaborasi dengan sekolah akan terus diperluas melalui Program RATAKAN sebagai upaya membangun ketahanan masyarakat terhadap ancaman ekstrimisme berbasis kekerasan.
“Kami berharap melalui kegiatan ini para siswa memiliki kemampuan mendeteksi sejak dini penyebaran paham IRET di lingkungan sekolah maupun masyarakat, sekaligus memperkuat sikap toleran, cinta tanah air, dan semangat kebangsaan sebagai benteng utama menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Sunadi.






