Indiespot,id Medan – Mentor sekaligus pengamat infrastruktur Sumatera Utara (Sumut), Erick L Tobing, menegaskan bahwa tahun 2026 harus menjadi momentum perubahan mendasar bagi masyarakat Sumut. Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya berfokus pada proyek fisik dan infrastruktur, tetapi harus dimulai dari pembangunan manusia, pola pikir, serta sistem dukungan sosial yang kuat.
Erick menilai, selama ini pembangunan kerap terjebak pada beton dan angka proyek, sementara pembangunan karakter, mental, dan budaya saling mendukung antarmanusia masih minim perhatian.
“Di tahun 2026 kita harus lebih baik. Kuncinya ada pada perubahan mindset. Kita harus membangun support system agar bisa melahirkan manusia-manusia yang berhasil,” ujar Erick L Tobing kepada wartawan, Kamis (8/1/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Erick saat kegiatan silaturahmi Gapeksindo Sumut bersama media dan tim Era Gapeksindo Muda yang digelar di Kantor PT Solar Jaya Energy Indonesia, Jalan Jaya Nomor 23, Medan.
Sebagai contoh, Erick menyoroti komunitas Tionghoa yang dinilainya mampu bertahan dan berkembang dalam berbagai situasi ekonomi karena kuatnya budaya saling mendukung.
“Mengapa warga Tionghoa bisa berhasil? Karena mereka saling support. Mereka tidak saling menjatuhkan, justru saling menguatkan dan membuka peluang satu sama lain,” jelasnya.
Ia mengkritisi pola pikir sebagian masyarakat yang justru merasa hebat ketika mampu menjatuhkan atau menjelekkan orang lain. Menurut Erick, pola pikir seperti ini harus segera diubah karena hanya akan menghambat kemajuan individu maupun daerah.
“Ada mindset yang keliru selama ini. Kalau tidak menjatuhkan atau menjelekkan orang lain, kita dianggap bukan orang hebat. Ini pola pikir yang harus diubah,” tegasnya.
Erick menambahkan, kemajuan suatu daerah tidak mungkin dibangun melalui persaingan tidak sehat, melainkan lewat kolaborasi, kepercayaan, dan budaya saling menguatkan. Ia juga menyoroti pentingnya membangun kewarasan sosial di tengah tekanan ekonomi, ketatnya persaingan, serta menurunnya empati di masyarakat.
“Selain infrastruktur dan ekonomi, kewarasan juga harus dibangun. Masyarakat yang waras secara sosial dan emosional akan lebih siap menghadapi tantangan, lebih produktif, dan lebih peduli terhadap sesama,” ujarnya.
Ia berharap para pemangku kepentingan, tokoh masyarakat, hingga generasi muda di Sumatera Utara dapat bersama-sama menciptakan ekosistem sosial yang sehat, di mana keberhasilan satu orang menjadi keberhasilan bersama, bukan ancaman bagi yang lain.
“Kalau kita ingin Sumut maju dan berdaya saing di 2026 dan seterusnya, maka kita harus mulai dari manusianya: bangun mindset, bangun support system, dan bangun kewarasan sosial,” pungkas Erick.
Sementara itu, Ketua Gapeksindo Medan, Excel A Korua Tobing, menyoroti kondisi anak muda di ruang publik. Menurutnya, meski sering disebut sebagai agen perubahan, suara anak muda justru kerap melemah di ruang publik yang sesungguhnya, baik di media sosial, media arus utama, maupun arena kebijakan.
“Bukan karena tidak punya gagasan, tetapi karena terlalu lama diajari untuk takut. Takut salah, takut diserang, takut dianggap tidak sopan,” ujar Excel.
Ia menyebut ruang publik hari ini menghadapi ironi. Akses berbicara terbuka lebar, namun keberanian untuk bersuara justru menyempit. Kritik dibungkus basa-basi, ketidakadilan disikapi dengan sindiran halus, hingga banyak isu penting mati sebelum menjadi percakapan publik.
Excel menegaskan bahwa ruang publik memang tidak pernah sepenuhnya aman. Namun justru di sanalah demokrasi diuji. Ketika ruang publik hanya diisi suara yang “rapi” dan “aman”, yang lahir bukan kemajuan, melainkan stagnasi.
“Anak muda tidak bisa terus-menerus diminta santun tanpa diberi ruang untuk tegas. Media sosial membuktikan satu hal: publik masih merespons keberanian. Ketika suara disampaikan dengan jujur dan konsisten, ia akan menemukan pendengarnya,” katanya.
Ia menilai sudah saatnya anak muda meninggalkan cara lama yang hanya mengandalkan jalur formal dan negosiasi sunyi. Menurutnya, perhatian publik adalah kekuatan politik yang mampu mendorong perubahan nyata.
“Keberanian bukan berarti tanpa arah. Yang dibutuhkan adalah menjual gagasan, bukan sensasi. Narasi yang kuat, figur yang kredibel, dan konsistensi sikap adalah modal utama,” ucapnya.
Excel menutup dengan menegaskan pentingnya mengembalikan panggung perubahan kepada anak muda. Generasi senior, menurutnya, harus berperan membuka jalan, bukan mendominasi.
“Keberanian memang tidak menjamin kemenangan. Tetapi tanpa keberanian, kekalahan sudah pasti. Jika ruang publik hari ini terasa bising, mungkin itu bukan masalah. Yang berbahaya justru ketika ia terlalu sunyi, karena dalam kesunyian itulah ketidakadilan bekerja paling efektif,” pungkasnya. (Sgh)






