INDIESPOT.ID, Medan – Bagi mahasiswa semester akhir, skripsi sering kali jadi momok terbesar untuk menuju gerbang sarjana. Mereka sering kali keteteran ngerjain skripsi padahal udah bertahun-tahun ngerjainnya, tapi tetap nggak kunjung selesai juga. Nah, biasanya banyak banget faktor yang mempengaruhi kenapa mahasiswa lama dalam mengerjakan skripsi. Salah satunya adalah dosen pembimbing yang susah ditemui.
Hampir semua mahasiswa yang mengerjakan skripsi merasakan susahnya ketemu sama dosen pembimbing. Tapi kalau mau mengubah persepsi, sepertinya dosen itu nggak susah untuk ditemui. Hany saja kadang dosen seperti itu akibat dari ulah mahasiswanya sendiri. Nah, simak ulasan berikut ini!
Katanya mahasiswa, tapi dasar-dasar kaidah penulisan yang benar nggak paham
Saat mengerjakan skripsi biasanya akan ketahuan bagaimana kemampuan mahasiswa. Khususnya sih dalam penulisa. Dan nggak ternyata masih banyak juga lho mahasiswa yang kalau nulis nggak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar dan berlaku. Seperti misalnya pemisahan “di” yang menunjukkan tempat tapi disambung. Itu, kan, kesalahan dasar banget, ya. pasti pendidikan dasarnya nggak pernah memperhatikan tuh kalau begitu. Ini jadi salah satu alasan kenapa dosen malas, ya karena menghadapi mahasiswa yang begitu. Apalagi kalau kamu mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia. Duh!
Disuruh datang pagi tapi malah molor*
Ini nih salah satu penyakit kronis mahasiswa. Udah janjian untuk bimbingan jam 8 pagi, datengnya baru jam 12 siang. Penyakit ini paling sering dilakukan sama mahasiswa yang semester tua, sering banget malasnya sampai keras kepala. Kalau udah begini, wajar dong, ya, jika jadwal bimbingan di hari-hari berikutnya, dosen pembimbing jadi susah untuk ditemuin. Soalnya udah kecewa sama kamu kemarin!
Bimbingan tanpa persiapan
Selain suka telat, ternyata masih banyak juga lho mahasiswa yang kalau mau bimbingan tapi nggak ada persiapan. Biasanya mahasiswa yang model begini, akan semaunya sendiri. Sama sekali nggak ada persiapan yang dilakukan. Misal, baterai laptop nggak diisi daya dulu, kertas revisi ketinggalan atau sengaja nggak dibawa, nggak bawa pulpen buat coret-coret. Atau parahnya lagi nih, bingung apa yang mau dikonsultasikan sama dosen pembimbing. Kalau gini ceritanya, alhasil ketika bertemu, yang ada cuma saling diam. Model-model begini ini juga bikin dosen pembimbing kesel banget lho.
Hubungi dosen pembimbing tanpa etika, berasa chat sama teman gebetan
“Bu, besok bisa bimbingan kan, ya. Bisa, ya, Bu, besok aku ke kantor ibu deh!”
Mahasiswa-mahasiswa yang modelan begini sepertinya memang nggak pernah diajarin etika deh. Sering banget, kan, kita ketemu sama mahasiswa yang kalau nge-chat dosennya berasa chatting sama teman sendiri? Atau jangan-jangan kamu salah satunya nih? Coba deh yang seperti ini dikurangi. Kamu harus lebih sopan kalau chat sama orang yang lebih tua, apalagi jika kalian yang lebih membutuhkan. Pasti dosen juga bakal senang kok untuk bantu proses skripsi kalau kamu menghubunginya dengan sopan.
Susahnya dosen untuk diajak ketemu oleh mahasiswanya itu terkadang bukan semata-mata karena mereka malas atau mementingkan kepentingan pribadinya. Tapi kalian sebagai mahasiswa juga perlu lho introspeksi kira-kira apa sebab dosen nggak mau untuk bimbingan. Kesalahan apa yang udah kalian lakukan. Kalau ada hal-hal di atas yang dilakukan, coba deh mulai diperbaiki. Dijamin lulusnya juga tepat waktu. Kalau dikerjain lho, ya. Semangat skripsian! (Ika)






