INDIESPOT.ID, Medan – Dalam hubungan, kita jangan terlalu percaya diri dengan mengandalakan kesetiaan maka pasangan kita juga akan setia pada kita. Meski sekalipun kita memiliki kualitas diri yang baik, semua itu tidak menjamin. Sebab kita bisa saja kalah dengan sosok yang selalu ada untuknya. Biasanya ini kerap terjadi pada mereka yang menjalin hubungan jarak jauh atau Long Distance Relationship (LDR).
Hal ini nggak bisa dibantah, meskipun pasangan sudah pernah menunjukkan rasa cinta yang terbilang cukup kuat. Godaan untuk berpaling itu bisa dialami oleh siapa saja, termasuk pasangan kita. Memang mungkin sebelumnya pasangan tidak ada niat untuk itu, tapi ketika menghadapi kondisi sebenarnya pikiran bisa saja berubah. Itu kenapa sering kita dengar “orang yang setia akan selalu kalah dengan orang yang selalu ada.” Dan inilah alasan kenapa yang setia kalah dengan yang selalu ada.
1. Kebersamaan yang menciptakan kenyamanan

Siapa yang menjamin kesetiannya nggak akan diselingi dengan kedekatan dengan seseorang? Terlebih lagi jika hubungan yang dijalani itu LDR. Bisa saja dia di sana dekat dengan seseorang yang kita nggak tahu. Memang cuma teman sih awlanya, tapi kalau sering menghabiskan waktu bersama bisa-bisa timbul rasa nyaman. Karena memang kebersamaan itu mampu menciptakan rasa nyaman.
Kebersamaan yang semakin jarang terjadi mampu membuat seseorang melupakan kenyamanan yang sebelumnya pernah tercipta. Dan kenyamanan itu justru bisa dirasakan kembali bersama sosok yang lebih sering memberikan kebersamaan. Disinilah muncul dua perbandingan antara yang setia dengan yang selalu ada. Sebab sudah bisa dipastikan sosok mana yang lebih mampu memberikan rasa nyaman.
2. Ikatan emosional yang terjalin dalam kebersamaan

Sering bersama dalam suka atau duka, merasakan kenyamanan terus menerus, maka ikatan emosional akan lebih mudah tercipta dari sosok yang selalu ada. Dari sini seseorang mulai tidak mampu untuk meninggalkan sosok yang selalu ada untuk sosok yang setia. Apalagi sosok yang setia untuk kedepannya itu belum tentu memberikan jaminan bisa memberikan kebersamaan yang sama. Jadi nggak heran, kalau seseorang merasa orang yang selalu ada itu adalah pilihan yang tepat.
3. Yang selalu ada cenderung lebih bisa diandalkan

Meskipun sudah sangat mandiri, siapapun tetap butuh orang lain dalam hidupnya. Ada kalanya memang kita membutuhkan bantuan ketika melakukan sesuatu. Kebutuhan akan hal ini pun tidak bisa diprediksi, karena sewaktu-waktu bisa saja terjadi. Maka diantara yang selalu ada dengan yang setia, sudah bisa dipastikan sosok mana yang lebih bisa diandalkan dalam berbagai keadaan terutama keadaan darurat.
4. Kebersamaan mampu menciptakan rasa ketergantungan

Apa jadinya jika dua orang sudah sama-sama bisa saling memberi keinginan dan kebutuhan untuk masing-masing pihak, tentu saja keduanya akan menjadi ketergantungan. Ketergantungan itulah yang nggak bisa diberikan oleh sosok yang setia. Meskipun sebelumnya sudah berharap banyak kepada sosok yang setia, semua itu bisa luntur ketika harapan itu sering sekali didapatkan oleh sosok yang selalu ada. Lagi-lagi yang setia akan kalah dengan yang selalu ada.
5. Pertemuan intens yang menciptakan rasa cinta

Kita tahu bahwa menjaga hubungan dengan pertemuan adalah cara paling efektif. Tanpa itu hubungan akan terasa hambar dan tidak berjalan dengan semestinya. Bagaimana jika hal itu tidak bisa dilakukan dengan sosok yang setia? Tentu akan tergantikan oleh sosok lain yang selalu ada, kan? Sosok yang selalu ada sudah pasti sering kali bertemu. So, jelas saja akhirnya bisa ditebak apa yang akan terjadi kemudian.
Itulah alasan kenapa “sosok yang setia kalah dengan sosok yang selalu ada.” Ingat! Kesetiaan bukan satu-satunya jaminan keamanan terhadap hubungan, kebersamaan tetap harus dijalani jika memang masih ada kesempatan. Lagi pula, selain karena alasan yang sudah disebutkan, kebanyakan orang memang menganggap orang lain lebih menarik daripada pasangan sendiri. Sehingga siapapun bisa tergoda meskipun sudah terikat hubungan dengan pasangan. (Ika)






