Indiespot,id Medan – Kepala Kantor Perwakilan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Utara Muhammad Pintor Nasution Jumat (3/10/2025) mengatakan salah satu faktor eksternal yang kerap mengguncang pasar adalah isu politik global.
“Mulai dari konflik geopolitik, perubahan kepemimpinan negara besar, kebijakan luar negeri, hingga tensi diplomatik antarnegara, semuanya memiliki dampak signifikan pada sentimen investor,” katanya.
Ketika dunia menghadapi berita tentang perang, embargo perdagangan, atau bahkan pernyataan keras dari pemimpin negara adidaya, pasar modal biasanya merespons dengan volatilitas yang meningkat.
Ia menyebut investor dihadapkan pada ketidakpastian yang sulit diprediksi, karena dinamika politik sering kali bergerak lebih cepat dibandingkan dengan pergerakan indikator makroekonomi. Pada kondisi ini, strategi menjadi kunci, yaitu bagaimana seorang investor mampu bertahan, bahkan mengambil peluang, di tengah ketidakpastian kondisi politik global.
Meskipun kondisi politik global seringkali berada di luar kendali investor, bukan berarti tidak ada ruang untuk mengelola risiko. Investor yang matang tidak hanya menunggu arah angin berubah, melainkan berusaha membaca pola, memahami dampak, dan menyiapkan langkah antisipatif.
Salah satu pendekatan utama adalah dengan menjaga perspektif jangka panjang. Gejolak akibat isu politik biasanya bersifat sementara, meskipun bisa terasa sangat menekan dalam jangka pendek. Pasar memiliki kemampuan untuk beradaptasi, dan seiring waktu, fundamental ekonomi kembali menjadi penentu utama arah investasi.
Di sisi lain, sentimen pasar yang cenderung reaktif justru sering membuka peluang bagi investor yang tenang dan rasional. Saat kepanikan melanda, harga saham bisa tertekan lebih rendah dari nilai wajar.
“Dalam kondisi seperti itu, investor dengan analisis kuat dapat memanfaatkan momentum untuk membeli aset berkualitas dengan harga yang lebih rendah,” kata Pintor melalui siaran pers yang di terima Jumat (3/10/2025).
Namun tentu saja, langkah ini menuntut keberanian dan keyakinan, serta pemahaman mendalam bahwa pasar cenderung pulih setelah badai mereda.
Selain berfokus pada jangka panjang, diversifikasi menjadi strategi penting. Investor yang menempatkan seluruh dana pada satu sektor atau wilayah akan lebih rentan ketika isu politik global menghantam.
Misalnya, jika seluruh investasi ditempatkan pada saham energi, konflik di kawasan penghasil minyak bisa menguntungkan, tetapi konflik yang justru menurunkan permintaan energi akan menimbulkan kerugian besar. Dengan menyebar investasi pada berbagai instrumen – saham, obligasi, reksa dana, bahkan instrumen pasar uang – risiko dapat ditekan.
Dalam menghadapi gejolak politik global, investor juga perlu memiliki pemahaman makroekonomi yang baik. Misalnya, konflik politik yang meningkatkan harga minyak dunia akan berimbas berbeda bagi negara importir dan eksportir minyak.
Indonesia sebagai net importir minyak, misalnya, cenderung merasakan tekanan pada defisit neraca perdagangan ketika harga minyak melonjak. Hal ini akan memengaruhi rupiah, inflasi, dan pada akhirnya pasar saham. Dengan memahami keterkaitan tersebut, investor bisa menilai sektor mana yang berpotensi lebih resilien atau justru rentan terhadap dampak isu politik global.
Kedisiplinan dalam pengelolaan portofolio juga menjadi faktor krusial. Banyak investor yang kehilangan arah karena terpancing oleh euforia maupun kepanikan pasar.
Padahal, memiliki rencana investasi yang jelas dan disiplin dalam menjalankannya bisa menjadi tameng dari keputusan emosional. Investor yang sudah menetapkan batas risiko atau target keuntungan sebaiknya tetap berpegang pada strategi tersebut meskipun situasi politik memanas.
“Dalam banyak kasus, kesabaran sering kali membuahkan hasil yang lebih baik dibanding respons spontan yang didorong rasa takut,” jelas Pintor.
Peran teknologi informasi juga tidak bisa diabaikan. Di era digital, berita politik global dapat tersebar hanya dalam hitungan detik melalui media sosial dan portal berita daring. Investor yang cerdas perlu menyaring informasi, membedakan mana yang sekadar rumor dan mana yang benar-benar berdampak fundamental terhadap pasar.
Kemampuan literasi informasi ini akan membantu menghindarkan diri dari jebakan panic selling atau overreacting terhadap isu yang belum jelas kebenarannya.
Bagi investor ritel di Indonesia, penting juga untuk menyadari bahwa tidak semua isu politik global memiliki dampak langsung terhadap pasar domestik.
Beberapa peristiwa hanya menimbulkan reaksi sesaat, sementara yang lain memang memiliki pengaruh lebih mendalam. Misalnya, kebijakan suku bunga The Fed di Amerika Serikat biasanya lebih berpengaruh terhadap aliran modal asing dan pergerakan rupiah, dibandingkan isu politik internal di negara lain yang hubungan dagangnya jauh dari Indonesia.
“Menyadari proporsi dampak ini dapat membantu investor menjaga ketenangan dan fokus pada faktor-faktor yang benar-benar relevan,” kata Pintor. (Red)






