Ini 5 Alasan Mengapa Gosip Ibu-Ibu di Pedesaan Cepat Menyebar. Intelejen Kalah Cepat!

  • Whatsapp
Ilustrasi Kepanikan. (Dok. freepik)

INDIESPOT.ID, Medan – Sebagai makhluk sosial tentu kita tidak bisa tinggal sendiri dan jauh dari keramaian. Itu sebabny mengapa kita memilih tinggal bertetangga. Nah, dalam bertetangga pun kita juga nggak bisa menyamaratakan semua orang. Ada memang tetangga yang begitu mendukung dan ramah sehingga nyaman untuk diajak bergaul. Namun adapula tetangga yang nyinyir atau suka gosip.

Berbicara soal gosip dan hidup bertetangga, biasanya hal ini akan lebih terasa di pedesaan. Karena di pedesaan membicarakan tentang gosip persebarannya tidak memerlukan teknologi yang canggih seperti gosip di televisi. Melalui mulut ke mulut, para ibu-ibu desa dengan cepat bisa menyebarkannya ke seluruh penjuru wilayah. Entah itu gosip yang menyenangkan sampai gosip yang miring, biasanya para ibu-ibu desa akan mudah menangkap informasi itu.

Bacaan Lainnya

Padahal kalau dilihat, jarak antara rumah ke rumah di pedesaan lebih jauh daripada jarak rumah di perkotaan. Tapi apa sih sebab atau alasan gosip bisa dengan cepat menyebar ke penjuru desa?

1. Rumah tanpa pagar

Alasan pertamana mengapa gosip di pedesaan lebih cepat tersebar adalah karena rumah di pedesaan tidak berpagar. Fenomena rumah tanpa pagar di pedesaan memang
memang sudah tidak asing lagi. Bukan tanpa sebab, mereka memang sengaja tidak membangun pagar supaya bisa tetap terhubung dengan orang-orang di sekitarnya.

Sehingga dengan adanya rumah tanpa pagar itu, para tetangga seakan ‘dipersilakan’ untuk mampir dengan tujuan apa saja, salah satunya mengobrol ngalor-ngidul. Dari situlah gosip bermula, para ibu-ibu akan saling memberikan informasi yang didapatkan dan bertukar kepada tetangga lainnya.

2. Adanya budaya rewang

Tentu budaya rewang atau bantu-bantu di setiap hajatan di desa sudah tidak asing lagi.
Saat peringatan itu, orang yang mempunyai hajat biasanya mengundang para tetangga desanya untuk diminta membantu memasak ataupun mempersiapkan acara. Dengan begitu, berkumpullah para ibu-ibu dari berbagai penjuru desa dan saling mengobrol satu sama lain. Nah, inilah yang akhirnya memunculkan gosip-gosip baru yang mungkin sebelumnya belum diketahui.

3. Berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga

Berbeda dengan di perkotaan yang dipenuhi oleh para wanita karier, ibu-ibu di desa biasanya lebih banyak berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Saat mereka mengasuh anak di rumah, muncul rasa bosan yang membuat mereka bermain ke rumah tetangga. Akhirnya, para ibu-ibu itu saling berbincang, mulai dari permasalahan pribadi sampai ke masalah orang lain. Jadi, nggak heran lagi kalau gosip-gosip terbaru selalu ada setiap harinya.

4. Solidnya ibu-ibu desa

Kalian pernah menonton film “Tilik” yang menceritakan tentang ibu-ibu desa yang akan menjenguk tetangganya yang sakit? Dari situ terlihat solidnya ibu-ibu di desa karena mereka selalu bersama-sama saat berpergian.

Kemungkinan besar saat bersama itulah mereka saling bertukar gosip. Hal serupa juga ditunjukkan dalam film “Tilik” yang didalangi oleh tokoh Bu Tejo. Dimana saat tengah jalan, mereka saling bertukar gosip.

Kejadian itu merupakan hal yang tidak bisa dihindari karena mereka akan selalu bersama, entah saat akan berwisata, menjenguk orang sakit, sampai menghadiri pernikahan tetangga.

5. Suasana pedesaan yang mendukung

Kalau kamu tinggal di perkotaan, untuk keluar dari kamar aja pasti malas bangetkan rasanya. Tapi, berbeda kalau kamu tinggal di desa. Udara di pedesaan yang rasanya sangat sejuk dan menyegarkan akan menarik orang-orang untuk menikmati suasananya, termasuk para ibu-ibu. Sambil melihat bentangan sawah yang luas ataupun sambil melihat matahari tenggelam, orang-orang di desa akan berkumpul dan membicarakan sesuatu. Tidak selalu gosip memang, tetapi kalau hampir setiap hari mereka bertemu, obrolan akan semakin merambat ke gosip-gosip yang tidak selalu benar.

Itu lah alasan kenapa gosip di desa itu lebih cepat tersebar. Tapi walaupun ada banyak alasan para ibu-ibu desa untuk bergosip, mereka nggak selalu membicarakan hal-hal yang buruk kok. Ada kalanya mereka saling memuji, menasehati, ataupun saling memberi solusi. Gimana, di desa kamu gitu nggak? (Ika)

Pos terkait