Guru Besar USU Ungkap Kegelisahan Selama Kuliah Daring

  • Whatsapp
Diskusi Publik IMAMIKOM USU

INDIESPOT.ID, Medan – Ketua Komisi E DPRD Sumut Ungkap Upaya Pemerintah Wujudkan Kuliah Tatap Muka

Beberapa Guru Besar Universitas Sumatera Utara (USU) menyampaikan kegelisahannya selama penerapan kuliah dalam jaringan (daring) yang sudah dilakukan sejak merebaknya kasus COVID-19 di Indonesia kurang lebih dua tahun yang lalu. Hal ini terungkap saat digelarnya Diskusi Publik Ikatan Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi (IMAMIKOM) FISIP USU Hybrid Event bertajuk “Mengukur Kesiapan Perguruan Tinggi Dalam Penerapan Belajar Tatap Muka” di Ruang Sidang FISIP USU pada Sabtu (13/11) siang.

Bacaan Lainnya

Hadir sebagai narasumber utama, Ketua Komisi E DPRD Sumatera Utara, Dimas Tri Adjie, S.I.Kom, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) USU, Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si dan Guru Besar Ilmu Komunikasi USU, Prof. Lusiana Andriani Lubis, MA, Ph.D. Mengawali diskusi yang dipandu oleh Putri Indonesia Lingkungan Sumatera Utara 2016, Sarah Pia Desideria ini, kedua guru besar USU tersebut mengungkapkan beberapa kegelisahan yang terjadi selama berlangsungnya perkuliahan secara daring.

“Pada saat pandemi ini (kuliah daring) ini diawali dengan keterpaksaan hingga menjadi kebiasaan, mau tak mau dosen seperti saya harus belajar bagaimana menerapkan teknologi belajar daring ini. Meskipun kami beranggapan, kuliah tatap muka yang paling efektif, tapi karena pandemi ya harus kita lakukan daring,” ungkap Prof. Ida Yustina.

Sejalan, Prof. Lusiana justru menilai bahwa banyak kebiasaan dan kultur perkuliahan yang berubah sejak diberlakukannya sistem perkuliahan daring selama dua tahun terakhir. Bahkan, banyak dosen yang tidak mengenal mahasiswanya, begitupun di kalangan mahasiswa, interaksi yang harusnya mereka dapatkan jadi terhambat akibat kuliah daring.

“Bagi mahasiswa, apalagi ilmu komunikasi ya mereka mengharapkan agar ilmu yang dipelajarinya dari dosen yang secara tatap muka, jadi semuanya berubah di 2019 akhir. Jadi karena daring ini, kami bahkan tidak mengenal siapa-siapa aja mahasiswa kami, jadi kita berharap sekali perkuliahan tatap muka di awal tahun 2022 ini bisa direalisasikan, mohon doanya agar bisa terjadi ini,” ujar Prof. Lusiana.

Menurut dosen Ilmu Komunikasi USU lulusan Universiti Sains Malaysia ini, baik mahasiswa dan dosen memiliki persoalan akibat diterapkannya kuliah daring. Ia menilai, dalam konteks komunikasi antar budaya, mengubah budaya perkuliahan itu tidak mudah, banyak hal-hal yang akhirnya menyebabkan perkuliahan tidak berlangsung efektif akibat kuliah virtual.

“Sedangkan kuliah tatap muka saja belum tentu mahasiswa bisa paham apa kita sampaikan, apalagi kuliah daring ini, tidak sedikit kita temui mahasiswa yang kuliah sambil menyetir di jalan, banyak mahasiswa yang tidak fokus,” ungkap Prof. Lusi.

Menyambut kegelisahan kedua guru besar tersebut, Ketua Komisi E DPRD Sumatera Utara, Dimas Tri Adjie, S.I.Kom mengatakan bahwa pihaknya selama ini sangat getol memperjuangkan agar kuliah tatap muka ini bisa segera direalisasikan. Bahkan pihaknya sudah mengunjungi Aceh dan Sumatera Barat untuk melakukan studi banding pelaksanaan belajar tatap muka.

“Jadi bagi sekolah-sekolah yang sudah PTM disana, saya melihat gaya komunikasi publik antar stakeholder sangat penting, jangan serta merta ketika ada siswa yang positif COVID-19 lantas disimpulkan itu kluster sekolah, pada bisa jadi itu berasal dari luar. Jadi kepala sekolah disana, seperti di Sumbar misalnya, umumnya mengumumkan kluster kelas, lakukan off selama 14 hari, lalu ketika kondisi memungkinkan PTM dilanjutkan lagi. Jadi bukan disebut klaster sekolah, yang akhirnya membuat masyarakat panik,” ungkap Dimas.

Dimas menilai, berdasarkan keterangan dari pihak universitas yang disampaikan oleh Wakil Rektor I, Dr. Edy Ikhsan, SH, MA sebenarnya persiapan USU untuk menerapkan kuliah tatap muka sudah sangat memadai. Jadi politisi Partai Nasdem ini menilai, perkuliahan tatap muka di USU sudah memungkinkan untuk dilakukan sejauh kampus bisa memastikan semua prosedur bisa berjalan sebagaimana mestinya.

“Jadi ibarat sepakbola, kapan ini kick off nya harus ada benar-benar dipikirkan semuanya dengan matang, termasuk resikonya juga harus dipikirkan, agar kuliah tatap muka ini bisa benar-benar berjalan efektif dan aman,” ujar pria yang juga alumni llmu Komunikasi FISIP USU ini.

Selain berdampak positif pada mahasiswa dan dosen, Dimas juga mengatakan bahwa perkuliahan tatap muka juga akan berdampak positif di sektor ekonomi. Banyak para pelaku usaha harian yang akan tertolong jika kuliah tatap muka dilakukan.

“Jadi usaha-usaha kantin, abang becak yang biasa mengantar mahasiswa, angkot, ojek online akan sangat terbantu jika kuliah tatap muka ini dilakukan. Artinya ketika aktivitas kampus hidup, maka geliat ekonomi juga akan bangkit,” papar Dimas.

Menyambung pemaparan Dimas terkait persiapan USU jelang kuliah tatap muka, selaku pakar kesehatan yang ikut terlibat dalam menyusun persiapan perkuliahan tatap muka di Universitas Sumatera Utara, Prof. Ida Yustina memastikan bahwa USU siap untuk memulai kuliah tatap muka mengingat beberapa infrastruktur yang dibutuhkan sudah memadai.

“Jadi buku pedoman untuk kuliah tatap muka sudah ada, tim Satgas COVID-19 kita sudah ada mulai dari tingkat universitas hingga fakultas, kita juga punya rumah sakit sendiri untuk penanganan COVID-19 bahkan jadi salah satu rujukan di Sumatera Utara. Jadi kami optimis, USU siap menggelar kuliah tatap muka,” ungkap Prof. Ida.

Sebelumnya, Wakil Rektor I Universitas Sumatera Utara, Dr. Edy Ikhsan, SH, MA yang hadir sebagai keynote speakers juga telah memaparkan beberapa persiapan yang telah dilakukan Universitas Sumatera Utara jelang perkuliahan tatap muka terbatas. Dalam penjelasannya, Edy menyampaikan bahwa USU siap melaksanakan perkuliahan tatap muka dimulai pada awal tahun 2022 mendatang.

Setelah paparan Wakil Rektor I USU, Wakil Gubernur Sumatera Utara juga sudah menyampaikan bahwa pihaknya pada prinsipnya mendukung perkuliahan tatap muka terbatas, tentunya harus sesuai dengan aturan-aturan yang diminta oleh pemerintah, mulai dari pedoman perkuliahan sampai dengan persiapan sarana dan prasarana yang memadai untuk memastikan perkuliahan berjalan sesuai dengan protokol kesehatan.

“Termasuk melaporkan ke Satgas COVID-19 setempat serta lembaga layanan pendidikan tinggi, dan menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam menerapkan protokol kesehatan,” pungkasnya.

Selain dihadiri tiga narasumber utama dan keynote speakers, acara ini juga turut dihadiri oleh Ketua Umum IMAMIKOM USU, Muhammad Fadli, S.I.Kom, Ketua Program Studi S2/S3 llmu Komunikasi USU, Dr. Iskandar Zulkarnain, M.Si, Dekan FISIP USU, Drs. Hendra Harahap, M.Si, Ph.D dan Ketua Magister Ilmu Komunikasi UMSU, Hj. Rahmanita Ginting M.Sc, Ph.D.

“Kita juga mengundang beberapa perwakilan mahasiswa dalam diskusi ini, ada Presiden Mahasiswa USU dan beberapa jajarannya, PEMA Fakultas, Suara USU, USU Media, perwakilan dari organisasi ekstra seperti HMI, GMNI, PMII, GMKI, dan sebagainya,” papar Ketua Panitia, Fauzan Ismail saat menyampaikan laporannya. (Admin)