Muda, rupawan, berhati mulia dan memiliki semangat tinggi rasanya sesuai menggambarkan sosok Muhammad Dava Warsyahdhana. Pria berusia 21 tahun ini merupakan pendiri Kita Pertanian dan Filosofi Padi, platform yang membantu untuk mensejahterakan dunia pertanian serta penemu minuman probiotik yang telah diakui dunia internasional.
Dava, sapaan akrabnya, saat ini sedang menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Berawal dari keresahan terhadap dunia pertanian yang kerap kali tidak mendapat perhatian lebih menjadi alasan Dava menekuni jurusan pertanian. Baginya, Indonesia tidak kalah penting posisinya di mata dunia dalam dunia pertanian.
Segudang prestasi pun telah ia raih semasa kuliah. Salah satu pencapaian terbaiknya adalah Gajura SPD, minuman probiotik hasil fermentasi susu kerbau ditambahkan daun stevia yang menjadi khas penemuan ini.
Gajura SPD ini berhasil mendapat 3 penghargaan sekaligus di World Invention and Inovation Contest (WIC) Seoul, Korea Selatan. Gajura SPD layak diminum bagi penderita diabetes sebab menggunakan daun stevia sebagai pemanis sehingga menjadi nilai lebih penemuan ini bila dibandingkan dengan minuman probiotik lainnya.
Terdapat hal yang unik dan menarik dari sebuah nama Gajura SPD. Gajura SPD ini diambil dari nama daerah asalnya, yaitu Galang Tanjung Morawa Serum Probiotik Drink. Penemuan ini berawal dari keresahannya terhadap sumber daya alam yang melimpah namun dihargai sangat murah di daerah dimana ia tinggal.
Melalui penemuannya, Dava berhasil mewujudkan mimpinya dan memberikan kontribusi serta manfaat untuk daerahnya. Dengan pemanfaatan sumber daya alam yang ada di daerahnya akan sangat membantu untuk mendorong kemajuan daerahnya.
“Mulai dari hal terkecil dan terdekat, yaitu rumah kita. Maka Insyaallah Allah akan meluruskan jalan kita,” ungkap Dava.
Tak sampai di situ, Dava terus mengembangkan sayap mimpinya, yaitu bergerak di ranah sosial. Dalam pandangan Dava, Indonesia kaya akan sumber daya alam dan manusia namun pengolahan dan pengarahan yang belum tepat.
Bergerak kedepan demi masyarakat, Dava memulai mimpinya dengan mendirikan Kita Pertanian dan Filosofi Padi. Sebuah platform dan wadah untuk menggabungkan mahasiswa-mahasiswa pertanian agar lebih peduli dan memberikan gerakan nyata untuk peningkatan pertanian Indonesia.
Kita Pertanian dan Filosofi Padi ini berdiri pada tahun 2019. Dengan tujuan untuk memberikan wadah bagi mahasiswa-mahasiswa pertanian serta mengajak sekitar untuk meningkatkan pertanian Indonesia.

“Di luar sana, banyak mahasiswa pertanian yang cakap intelektualnya, namun hanya untuk diri sendiri. Di sini Kita Pertanian dan Filosofi Padi hadir agar mahasiswa pertanian yang cakap intelektualnya turut merasakan kehidupan dunia pertanian secara nyata dan memberikan kontribusi ke pertanian”
“Kalau kita punya nilai yang berharga bagi diri kita, mari kita jadikan nilai tersebut untuk mengajak orang lain agar menjadi lebih berharga untuk kebaikan bersama,” tambahnya.
Selain kedu prestasinya itu, Dava juga aktif dalam setiap kegiatan nasional hingga internasional dan berhasil mendapat penghargaan di setiap kegiatan.
Sebut saja Juara 1 Pekan Ilmiah Mahasiswa Pertanian Indonesia (PIMPI) 2018 di IPB Bogor, Juara 2 Pekan Ilmiah Sriwijaya (PIS) 2018 di UNSRI Palembang, Juara 3 Business Plan Competition (BPC) 2019 di UNAND Padang, Juara 1 Tanjungpura Medical Scientific Competition (TMSC) 2019 di UNTAN Pontianak, Silver Medal International Festival of Innovation On Green Technology (I-FINOG) 2019 di Universiti Pahang Malaysia.
Gold Medal World Invention and Inovation Contest (WIC) 2019 di Seoul, First Grade Excellent World Invention and Inovation Contest (WIC) 2019 di Seoul, hingga Special Award From Asia Invention Creativity World Invention and Inovation Contest (WIC) 2019 di Seoul.
Sebuah harapan dan keyakinan penuh yang di percayainya adalah setiap orang itu memiliki nurani untuk bermanfaat bagi sekitar. Komitmen kebermanfaatan sebuah kata yang menjadi janji dan landaskan bagi sosok Dava.
“Jadikan apa yang kita dapat hari ini, semua ini sementara, dan akan tergantikan maka berjanji dalam diri untuk memberikan manfaat meneruskan kebermanfaatan. Sebab sejatinya setiap masa ada orangnya maka ketika kita ada pada masa ini carilah penerus untuk menyebarkan kebermanfaatan,” pungkasnya. (EA)






