indiespot.id – Medan, Polsek Medan Kota bersama tim Inafis Polrestabes Medan menggelar pra rekonstruksi kasus pembunuhan terhadap dua anak laki-laki di Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Maimun, Senin (22/6) siang.
Petugas melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Rumah korban berada di belakang sekolah Global Prima.
Sementara di depan gang rumah korban terlihat warga berkerumun ingin melihat pra rekonstruksi tersebut.
Bahkan tidak sedikit warga yang mengucap sumpah serapah kepada ayah tiri korban yang diduga sebagai otak pelaku pembunuhan.
“Memang gak otak ayahnya. Bukan manusia dia itu,” sorak warga.
Sementara lokasi kejadian dipasangi garis polisi untuk memudahkan proses pra rekonstruksi.
Hingga berita diturunkan, polisi masih melakukan pra rekonstruksi.
Untuk diketahui, pembunuhan itu terungkap pada Minggu (21/6) pagi saat ibu kandung kedua korban, Fathulzanah, menerima pesan WhatsApp dari suaminya, Rahmadsyah.
Rahmadsyah yang merupakan ayah tiri korban diduga mengakui perbuatannya telah membunuh kedua bocah tersebut.
Setelah mendapat pesan singkat melalui WhatsApp, Fathulzanah mendatangi sekolah Global Prima. Di sana dia menjumpai kedua buah hatinya telah meninggal dunia. Korban mengalami luka di bagian kepala yang diduga akibat benturan keras.
Melihat jasad kedua anaknya, sontak Fathulzanah menjerit histeris hingga membuat satpam sekolah berhamburan ke sumber suara.
Pihak pengamanan sekolah kemudian menghubungi petugas dari Polsek Medan Kota.
Polisi yang tiba di lokasi langsung melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kematian keduanya.
Kasus pembunuhan ini berawal dari permintaan kedua korban kepada ayah tirinya untuk dibelikan es krim, Sabtu (20/6).
“Saat itu ayah tiri korban menolak permintaan itu karena alasan tidak memiliki uang,” ujar Kapolsek Medan Kota, Rikki Ramadhan, Minggu (21/6).
Namun karena keduanya terus memaksa, pelaku pun emosi dan menganiaya kedua korban hingga meninggal.
Korban Ikhsan Fatahilah ditemukan di sudut bangunan sekolah Global Prima. Sementara Rafa Anggara ditemukan di dalam parit lingkungan sekolah.[e3]






