Medan, Indiespot.id – Perusahaan Umum Daerah (PUD) Pembangunan Kota Medan terus menunjukkan komitmen dalam membenahi Medan Zoo sebagai destinasi wisata edukatif yang layak dan berstandar tinggi. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PUD Pembangunan Medan, Bambang Hendarto, menyebut revitalisasi terus berjalan meski dihadapkan pada keterbatasan sumber daya manusia dan pendanaan.
“Luas Medan Zoo mencapai 30 hektare, sementara tenaga kebersihan kami hanya empat orang. Saat kemarin 300 lebih influencer membantu bersih-bersih, kami sadar bahwa menjaga kebersihan kebun binatang ini bukan pekerjaan ringan. Bahkan saya sendiri turun langsung membersihkan,” ujar Bambang, Senin (4/8/2025).
Menanggapi viralnya unggahan kondisi kandang primata di media sosial, Bambang mengakui adanya kekurangan. Namun ia menegaskan bahwa perawatan dan kualitas pakan satwa tetap menjadi prioritas utama.
“Kami tidak memungkiri video yang beredar itu. Namun, kondisi tersebut terjadi di luar jam operasional pembersihan. Dari total 47 kandang, hanya lima orang petugas yang menangani perawatan harian. Ini tantangan kami yang nyata,” jelasnya.
Ia juga membantah isu pemberian makanan tak layak bagi satwa. Saat ini, Medan Zoo merawat lebih dari 200 ekor satwa dari sekitar 40 spesies, termasuk harimau yang mendapat perawatan intensif. “Kami tidak pernah memberikan makanan plastik. Semua pakan satwa diformulasikan oleh dokter hewan. Hingga saat ini, belum ada kasus kematian satwa sepanjang tahun 2025,” katanya.
Untuk meningkatkan standar pengelolaan, PUD Pembangunan menjalin kemitraan strategis dengan Taman Safari Indonesia. “Setelah kunjungan Pak Wali Kota ke Medan Zoo, kami langsung bertemu dengan owner Taman Safari. Skema kerja samanya sedang disusun. Meski melibatkan investor luar, kami optimistis revitalisasi akan segera terealisasi,” ungkap Bambang.
Pihaknya juga membuka peluang kerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk menambah koleksi satwa. Beberapa burung beo sudah diserahkan BKSDA, namun penambahan lebih lanjut akan disesuaikan dengan kesiapan infrastruktur dan sistem perawatan Medan Zoo.
Bambang mengungkapkan bahwa hingga kini Medan Zoo belum mendapat sokongan dana dari APBD Kota Medan. Operasional, termasuk biaya pakan satwa yang mencapai sekitar Rp70 juta per bulan, sepenuhnya ditopang dari pendapatan tiket masuk yang hanya berkisar Rp30–50 juta per bulan. Defisit operasional mencapai lebih dari Rp100 juta setiap bulan.
“Untuk menutup kekurangan, kami mengandalkan unit usaha lain di bawah PUD Pembangunan. Karena itulah kami sedang menjajaki potensi investor, meski sampai saat ini belum ada yang menandatangani kerja sama resmi,” tambahnya.
Guna meningkatkan kunjungan publik, PUD Pembangunan menggandeng kecamatan-kecamatan di bawah Pemko Medan untuk menghidupkan kembali minat masyarakat berwisata edukatif. “Kami sedang siapkan sinergi dengan camat-camat agar masyarakat kembali tertarik ke Medan Zoo,” ujar Bambang.
Terkait rumor kerja sama dengan selebritas Raffi Ahmad, Bambang mengklarifikasi bahwa belum ada perkembangan terbaru. “Kami sempat menjemput mereka untuk melanjutkan program yang sempat dirancang, tapi sampai hari ini belum ada balasan. Jadi belum ada konsep ataupun tawaran resmi,” tegasnya.
Ia juga merespons kritik publik soal kondisi primata Sulawesi yang sempat viral. “Kalau dibilang tidak sehat, bandingkanlah dengan standar perawatan satwa di tempat lain agar penilaian lebih objektif. Kami pastikan pakan terjaga dan dokter hewan rutin memantau kondisi mereka,” ujarnya.
Medan Zoo kini berada dalam tahap transformasi menuju kebun binatang modern yang ramah keluarga dan edukatif. “Meski masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, langkah konkret untuk menjaga kesejahteraan satwa, menjalin kerja sama strategis, dan menggugah partisipasi publik terus kami lakukan,” tutup Bambang. (Sgh)
