Site icon Indiespot.id

Digitalisasi Imunisasi: Sumut Genjot Kampanye Kesehatan Lewat Medsos

Indiespot,id Medan – Upaya peningkatan cakupan imunisasi di Sumatera Utara kini merambah ke dunia digital. Selama dua hari, Selasa dan Rabu (15-16 Juli), puluhan tenaga kesehatan dari 28 kabupaten/kota di Sumatera Utara mengikuti pelatihan intensif untuk mengoptimalkan kampanye imunisasi melalui media sosial.

Inisiatif ini merupakan kolaborasi antara Direktorat Imunisasi dan Promosi Kesehatan Komunitas Kementerian Kesehatan RI dengan Global Health Strategies (GHS).

Pelatihan ini menargetkan kemampuan tenaga kesehatan dalam menciptakan konten imunisasi yang relevan, berkarakter lokal, dan berdampak kuat di platform digital. Puskesmas Helvetia dan Amplas di Medan ditunjuk sebagai proyek percontohan, dan hasilnya mulai menunjukkan dampak positif.

Kabid P2P Dinas Kesehatan Sumut, Novita Rohdearni Saragih, menyatakan bahwa pelatihan ini membawa angin segar bagi upaya promosi kesehatan. “Dinas Kesehatan itu sebenarnya objeknya ya, dan GHS ini membantu kami lewat pelatihan dan pembuatan konten yang sebelumnya sudah disiapkan. Ini betul-betul jadi warna baru buat kami,” ujar Novita usai membuka kegiatan.

Sumatera Utara saat ini menduduki posisi kelima secara nasional dalam cakupan imunisasi dasar lengkap, dengan sebagian besar wilayah telah mencapai angka di atas 50 persen. Namun, Novita menekankan bahwa target tidak berhenti pada angka, melainkan juga pada peningkatan kesadaran (awareness) dan perubahan sikap masyarakat terhadap imunisasi.

Ganendra Awang Kristandya, Senior Director Global Health Strategies untuk Indonesia dan ASEAN, menjelaskan bahwa proyek bertajuk Facts Social ini bertujuan untuk memengaruhi perilaku masyarakat melalui platform digital yang mereka gunakan sehari-hari.

“Rata-rata orang Indonesia menatap layar selama lebih dari tujuh jam sehari. Jadi kenapa tidak kita isi layar itu dengan konten imunisasi yang akurat?” kata Ganendra.

Sejak diluncurkan, lebih dari 150 konten digital telah disebarkan melalui kanal resmi Dinas Kesehatan Medan dan dua puskesmas percontohan, berhasil menjangkau lebih dari 8 juta akun. Selain itu, GHS juga membentuk WhatsApp Group Ibu Pandai, sebuah forum diskusi daring yang memungkinkan para ibu berbagi informasi kesehatan langsung dari tenaga profesional. Data awal menunjukkan bahwa setiap tiga informasi yang dibagikan, satu ibu menunjukkan minat baru untuk mengimunisasikan anaknya.

Dr. dr. Anung Sugihantono, Senior Advisor GHS, menekankan pentingnya pendekatan lokal dalam kampanye ini. “Yang menentukan imunisasi anak bukan cuma ibunya. Di Medan beda dengan Langkat, di Bitung beda dengan Manado. Itulah kenapa pesan-pesan ini harus dikemas secara lokal,” jelasnya.

Dalam pelatihan, peserta juga diajak memilih platform digital yang paling sesuai dengan karakteristik masyarakat di wilayah masing-masing, mulai dari Facebook, WhatsApp, Instagram, hingga X (sebelumnya Twitter).

Ke depan, GHS dan Kementerian Kesehatan akan mengembangkan alat ukur untuk mengevaluasi efektivitas kampanye berbasis media sosial. Hal ini penting, menurut Anung, agar promosi kesehatan tidak hanya dianggap sebagai “cuap-cuap” tanpa hasil nyata.

“Kita harus bisa buktikan bahwa kampanye di medsos berdampak langsung pada peningkatan imunisasi. Kalau jalannya benar, hasilnya bisa diukur,” pungkasnya. (Sgh)