INDIESPOT,CO.ID MEDAN – Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Provinsi Sumatera Utara (BEI Sumut), Pintor Nasution menyampaikan, salah satu cara untuk mencapai kebebasan finansial adalah melalui investasi di pasar modal, yang menawarkan berbagai instrumen seperti saham, obligasi, surat utang negara, reksa dana, dan Exchanged Traded Fund (ETF).
“Investasi di pasar modal memungkinkan dana berkembang seiring waktu melalui capital gain dan dividen. Pasar modal juga berpotensi mengalahkan inflasi dan instrumen investasi konvensional seperti tabungan atau deposito. Namun, penting untuk diingat bahwa return tidak dijamin setiap tahun, dan ada periode dimana pasar mengalami koreksi yang dapat mempengaruhi hasil investasi,” ujar Pintor melalui siaran pers, Sabtu (22/2/2025).
Pintor menyebutkan investasi saham dan obligasi memungkinkan investor memperoleh pendapatan pasif secara rutin. Dengan menjadi pemegang saham, investor memiliki potensi untuk menerima dividen setiap tahun, yang memberikan sumber pendapatan tambahan yang dapat digunakan untuk kebutuhan hidup atau diinvestasikan kembali.
Selain itu, saham memberikan potensi capital gain dari transaksi jual dan beli saham di BEI. Sementara, obligasi memberikan kupon (bunga) tetap yang ideal bagi investor yang mencari hasil investasi yang lebih stabil.
“Kupon obligasi atau surat utang umumnya dibayar tiap semester atau tiap kuartal. Sama seperti saham, obligasi bisa diperjualbelikan di pasar sekunder BEI, sehingga memiliki potensi keuntungan berupa capital gain. Namun harus diingat, memperjualbelikan saham dan obligasi sama-sama memiliki risiko capital loss, atau kerugian dalam nilai transaksi jika harga saham atau harga obligasi mengalami penurunan harga, dibanding harga beli,” pungkasnya.
Investasi di pasar modal, sambungnya, memungkinkan investor melakukan diversifikasi sebagai manajemen risiko, karena ada banyak jenis instrumen di pasar modal. Strategi diversifikasi membantu mengurangi risiko jika harga salah satu aset turun, karena investor memiliki eksposur terhadap berbagai sektor dan instrumen.
“Filosofi investasi mengatakan, jangan menyimpan telur di dalam satu keranjang. Artinya, investor harus memiliki beberapa saham untuk mengurangi risiko turunnya harga salah satu atau beberapa saham dalam portofolio investasi masing-masing. Diversifikasi membantu menciptakan keseimbangan risiko dan imbal hasil dalam jangka panjang,” tandasnya.
Ia menuturkan, selain saham dan obligasi, instrumen reksa dana dan ETF memberikan akses ke portofolio yang terdiversifikasi, dan dikelola oleh profesional yaitu manajer investasi. Manajer investasi memiliki strategi diversifikasi yang baik untuk memastikan investasi tetap tumbuh meskipun tetap memiliki risiko sesuai jenis reksa dananya.
“Investor dapat memilih instrumen yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan mereka. Ada beberapa tipe investor, yaitu agresif, moderat, dan konvensional. Dengan strategi investasi yang tepat, seseorang dapat membangun portofolio yang cukup besar untuk membiayai kehidupan di masa pensiun tanpa bergantung pada gaji atau anak-anak mereka,” ucapnya.
Oleh karena itu, kata dia, investasi di pasar modal adalah langkah penting dalam membangun kebebasan finansial, yang memungkinkan pertumbuhan aset, pendapatan pasif, dan perlindungan terhadap inflasi.
“Dengan kedisiplinan, pemahaman dengan kondisi terkini, serta berorientasi jangka panjang, pasar modal dapat menjadi alat utama dalam mewujudkan kebebasan finansial,” pungkasnya. (Rel/Sgh)
