INDIESPOT.ID, Medan – Islam memerintahkan pemeluknya agar senantiasa menimba ilmu pengetahuan. Tuntutlah ilmu dari buayan sampai ke liang lahat. Menuntut ilmu diwajibkan atas mukmin baik laki-laki maupun perempuan, demikian salahsatu hadits Rasulullah Saw.
Bila dianalisis keberadaan puasa Ramadhan maka ia adalah salah satu pelatihan atau pendidikan tingkat tinggi yang disediakan Allah untuk mengantarkan manusia ke derajat kemuliaan dan ketakwaan. Puasa juga menjembatani manusia sehingga mencapai derajat yang sempurna (insan al-kamil). Insan kamil adalah manusia atau hamba yang mencapai kesempurnaan hidup yang diandai dengan melekatnya sifat-sifat ketakwaan pada dirinya.
Kenapa puasa Ramadhan dikatakan merupakan pelatihan atau pendidikan tinggi milik Allah? Pertama, perintah puasa Ramadhan bersifat khusus, memiliki ayat tersendiri yaitu surat al-Baqarah ayat 183 yang memerintahkan sekaligus mewajibkan setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah untuk berpuasa. Perintah puasa tidak hasil ijtihad para ulama.
Puasa juga dibarengi dengan kewajiba-kewajiban lainnya yang harus dikerjakan sebagai seorang muslim. Ibnu Umar meriwayatkan, ketika Malaikat Jibril bertanya kepada Rasulullah Saw, apakan Islam itu kata Malaikat,…pada akhirnya malaikat sendiri yang menjawab: Islam adalah…salah satunya adalah berpuasa di bulan Ramadhan (Bukhari Muslim)
Puasa Ramadhan tidak syariat biasa ia merupakan lambang dan pertarungan identitas antara Islam dan tidak Islam atau antara mukmin dan kafir.
Kedua, puasa Ramadhan adalah urusan Allah. Dalam satu hadits qudsi, Allah mengatakan: “Sesungguhnya seluruh amal ibadah setiap hamba unuknya, kecuali Ramadhan, ia untukku dan aku yang akan membalasnya”.
Apakah ada ibadah untuk Allah tentu tidak karena ibadah seseorang untuk dirinya. Seorang beriman atau tidak samasekali Allah tidak diuntungkan dan dirugikan. Akan tetapi Allah mengatakan untuk menjelaskan kepada orang beriman bahwa puasa mereka sebagai bukti keimanan kepada Allah. Mengapa demikian karena puasa Ramadhan bukan sekedar tidak makan dan minum tetapi berpuasa dari seluruh yang membatalkan pahalanya. Rasulullah mengatakan “betapa banyak yang berpuasa tidak mendapat pahala melainkan hanya lapar dan haus” (H.R. Imam Ahmad).
Dalam sebuah hadits diriwayatkan:“Siapa siapa yang mendirikan Ramadhan dengan dasar keimanan dan beribadah karena Allah maka akan diampuni dosanya yang telah lalu” (H.R. Muslim). Jika puasa dilakukan dalam rangka ibadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan, Allah akan mengampuni dosa hambanya. Jadilah puasa menjadi pembakar dosa-dosa manusia. Tidak berlebihan dikatakan bahwa puasa merupakan sarana pendidikan dan pelatihan tingkat tinggi yang hanya Allah menjadi pelatihnya. Oleh sebab itu puasa Ramadhan yang dilakukan sebulan lamanya akan melatih dan mendidik manusia beberapa hal.
Pertama, melatih agar manusia menjadi orang yang bertakwa. Takwa adalah satu derajat yang paling tinggi dalam konteks keislaman dan keimanan. Takwa adalah pendidikan, takwa adalah kesungguhan, takwa adalah keberhasilan dan kemenangan bahkan takwa adalah ketenangan. Takwa sangat dekat dengan pendidikan. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan hanya diukur dengan kecerdasan dan penguasaan berbagai ilmu akan tetapi diukur dengan ketundukannya kepada Allah Swt. Sehingga ketakwaan itu luas maknanya yakni manakala seseorang memiliki dua kualitas sekaligus; kualitas dunia dan akhirat. Iman tanpa ilmu buta, ilmu tanpa iman akan binasa.
Kedua, Ramadhan adalah bulan kesabaran. Kesabaran adalah pembuka surga. Puasa mejadi sarana yang ampuh melatih kesabaran. Sementara sabar merupakan salah satu penolong manusia di dalam kehidupan itulah sebabnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Hidup tidak terlepas dari sifat sabar. Dalam kehidupan sehari-hari manusia dituntut senantiasa sabar. Seorang murid dituntut bersabar menjalani proses pendidikan sampai pada akhirnya merasakan keutamaan ilmunya. Seorang guru, seorang ayah, seorang suami, bahkan setiap pemimpin dan setiap rakyat membutuhkan kesabaran.
Ketiga, Ramadhan adalah bulan santunan. Sangat dianjurkan memperbanyak pertolongan apakah dalam bentuk sedekah wajib maupun sedekah sunat dalam bentuk infaq dan pertolongan lainnya. Ibnu Khuzaimah meriwayatkan, orang yang banyak memberikan pertolongan di bulan ini akan ditambahkan rezekinya. Rasulullah ditanya, “Kapankah sedekah yang lebih baik, Rasulullah menjawab, sedekah yang paling baik ialah sedekah pada bulan Ramadhan (HR. Turmudzi). Wallahu A’lam. (Dr. Muktarruddin, MA. Ketua MUI Percut Sei Tuan)
