INDIESPOT.ID, Medan – Tayang Kamis pekan ini (29/9), film Jagat Arwah dibintangi oleh deretan pemain film terbaik tanah air. Mulai dari Ari Irham, Sheila Dara, Cinta Laura hingga masih banyak lagi. Film beraliran horor fantasi tersebut juga dimeriahkan oleh penampilan istimewa dari Ganindra Bimo, yang perankan Genderuwo. Setelah jelajahi banyak lokasi syuting yang angker dan penuh teror, Ganindra Bimo bagikan pengalaman mengerikannya saat syuting di hutan Wanagama, Yogyakarta. Di antara pepohonan yang menjulang di lembah gunung Kidul, Ganindra Bimo lalui pengalaman ganjil yang tidak terlupakan.
Dengar Suara Hajatan di Tengah Hutan Wanagama
Ganindra Bimo ingat saat itu waktu telah menunjukkan pukul 2 pagi. Ia bersama kru Jagat Arwah masih harus bergulat merekam gambar di pelosok hutan gunung Kidul, yakni hutan Wanagama. Di tengah proses syuting, dalam hutan yang gelap dan senyap itu tiba-tiba mengalun suara hajatan yang bergema dari kejauhan. Samar, tapi perlahan kedengaran semakin nyata. “Malam-malam kami dengar suara hajatan. Lo bayangin aja, jam 2 pagi, siapa yang ngadain hajatan di tengah salah satu hutan tertua di Jogja coba?” Cerita Ganindra. Selain itu, Ganindra Bimo juga akui pernah mendengar jeritan perempuan dan diganggu saat berolahraga di rumah. “Dulu, gue pernah diteror jeritan perempuan di rumah. Waktu lagi work out, pas push-up gitu, tangan gue tiba-tiba ada yang narik dari bawah ranjang.” Lanjut Ganindra.
Relate dengan Genderuwo yang Baperan
Memerankan sosok Dru, alias Genderuwo dalam Jagat Arwah, Ganindra Bimo akui bahwa ada beberapa watak yang membuatnya merasa relate dengan tokoh tersebut. “Gue relate sama tokoh Dru, alias Genderuwo di film Jagat Arwah, karena dia tuh nonjolin sisi humanisnya.” Beber Ganindra. “Meski meledak-ledak, impulsif, emosional, dia juga makhluk yang sensitif. Bisa dikasih tahu dan mau diajarin. Manusiawi banget, kan?” Bubuh Ganindra. “Kalau ditanya Dru itu cowok yang ideal atau bukan, gue enggak bisa komentar, sih. Yang jelas, buat gue, citra cowok ideal yang selama ini berusaha gue bangun, tuh, yang bisa jaga komitmen.” Pungkas Ganindra.
Nantikan penampilan memukau Ganindra Bimo sebagai Genderuwo yang tampilkan sisi kemanusiaan hanya dalam Jagat Arwah, tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 29 September 2022.
FILM JAGAT ARWAH MENGGENTAYANGI
BIOSKOP INDONESIA 29 SEPTEMBER 2022
SINOPSIS JAGAT ARWAH Kematian sang Ayah, Sukmo (Kiki Narendra), secara mendadak dan mencurigakan mendorong Raga (Ari Irham) menelusuri kehidupannya yang penuh hal mistis. Termasuk kenyataan bahwa ia merupakan keturunan penyeimbang Jagat Arwah sekaligus Jagat Manusia yang bergelar Aditya ke-7. Mimpi jadi anak band terkenal harus ia pertaruhkan demi melanggengkan tradisi keluarganya.
Dibantu pamannya, paklik Jaya (Oka Antara), Raga berusaha mengendalikan kekuatan di dalam dirinya dan bertemu dengan arwah-arwah yang masih memiliki hubungan dengannya diperjalanan ; Noni (Cinta Laura), Kunti (Sheila Dara) dan Genderuwo (Ganindra Bimo).
Pertemuan itu kemudian mengubah hidup Raga selamanya.
SEKILAS TENTANG VISINEMA
Visinema Pictures didirikan oleh Angga Dwimas Sasongko pada tahun 2008. Beberapa film layar lebar Visinema adalah Cahaya Dari Timur Beta Maluku, Filosofi Kopi, Surat Dari Praha, Love for Sale, Keluarga Cemara, Terlalu Tampan, Generasi 90an: Melankolia, Pulau Plastik, Tarian Lengger Maut hingga dua film terbaru mereka; NUSSA dan Ben & Jody.
Film Keluarga Cemara merupakan film keluarga Indonesia pertama yang berhasil meraih 1.7 juta penonton di awal tahun 2019. Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini menjadi film pembuka awal tahun 2020 yang berhasil meraih 2.2 juta penonton. Sedangkan NUSSA, menjadi film animasi Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak di masa pendemi 2021 dengan total lebih dari 440.000 penonton. NUSSA juga meraih Piala Citra 2021 sebagai Film Animasi Panjang Terbaik.
Film-film produksi Visinema Pictures mempunyai visi progresif, yakni untuk menambah perspektif dalam melihat berbagai sisi kehidupan masyarakat di Indonesia. Selain itu, kualitas film yang dihadirkan Visinema juga berlandaskan pada keintiman pengalaman menonton setiap orang dan menjadikan sinema sebagai representasi seni sekaligus kekayaan intelektual Indonesia. (Dim/Rel)






