INDIESPOT.ID, Medan – Fraksi PDIP DPRD Sumatera Utara pesimis visi dan misi yang dijabarkan Edy Rahmayadi dan Musa Rajeckshah dalam RPJMD Sumut 2018-2023 terealisasi.
Anggota Fraksi PDIP DPRD Sumut, Rudi Hermanto menjelaskan, sektor-sektor prioritas yang menjadi sorotan F-PDI Perjuangan dalam mengukur terancamnya realisasi visi-misi seperti pendidikan dengan target lama usia sekolah mencapai 10,5 tahun.
Kemudian, jesehatan ditargetkan ada sejumlah rumah sakit umum daerah di kabupaten/kota akan dijadikan rumah sakit rujukan. Serta, akan menjadikan rumah sakit haji bertaraf internasional belum juga terwujud.
“Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan mantap ditargetkan mencapai 90 % masih dalam proses panjang dan untuk APBD 2023 ditargetkan meningkat menjadi 18 triliun rupiah ternyata dalam R-APBD 2023 hanya 13,8 triliun. Fakta-fakta tersebut membuktikan bahwa visi dan misi Gubsu dan Wagubsu terancam tidak bisa direalisaikan,” ujar Rudi Hermanto.
Selain itu, fraksi PDIP DPRD Sumut juga menyoroti setidaknya tiga persoalan besar yang sedang dan akan mengancam keberhasilan pembangunan dan kesejahteraan rakyat Sumatera Utara yaitu inflasi, daya beli dan lapangan pekerjaan.
“Sumut mengalami inflasi sebesar 5,62 %, Pemprovsu perlu memberikan perhatian yang serius dengan tren inflasi ini. Naik turunnya persentasi inflasi tentu berdampak pada pengelolaan anggaran dan aktivitas ekonomi rakyat Sumut, baik sebagai pelaku ekonomi (produsen) maupun sebagai konsumen (rakyat),” lanjut Rudi Hermanto.
F-PDI Perjuangan menilai bahwa belum melihat ada kesungguhan dari pemerintah provinsi sumatera utara dalam mengantisipasi kemungkinan naik turunnya persentasi inflasi dan kemungkinan dari dampak buruk inflasi tersebut.
Terkait masih rendahnya kemampuan daya beli rakyat di tengah meroketnya harga barang-barang terutama kebutuhan pokok rakyat tentu memberikan dampak negatif dari inflasi itu sendiri dan dampak ini yang sangat dominan.
“Upah buruh yang masih tergolong rendah, hasil panen petani masih tidak menentu karena harga pupuk yang mahal dan cuaca ektrim senantiasa menghantui, berbagai jenis usaha ekonomi rakyat baik jasa, kuliner dan lain sebagainya, penghasilannya masih hanya sekedar bertahan hidup. Persoalan-persoalan tersebut menjadi faktor-faktor rendahnya daya beli rakyat,” ungkapnya.
Terakhir, F-PDI Perjuangan menyoroti bahwa perkembangan teknologi terutama teknologi informasi dan teknologi artificial intelligence telah mempengaruhi secara signifikan terhadap ketersedian lapangan pekerjaan yang secara langsung melibatkan kegiatan fisik.
Diprediksi ada sekitar 85 juta jenis pekerjaan yang banyak melibatkan kegiatan fisik di dunia, yang akan hilang hingga tahun 2025.
“Saat ini saja sudah banyak sektor-sektor pekerjaan yang melibatkan fisik manusia telah diambil alih oleh robot dan mesin-mesin elektronik. Namun, perkembangan teknologi akan membuka peluang sekitar 93 juta jenis pekerjaan baru yang berbasis pada kemampuan imajinatif dan inovatif manusia dengan syarat kemampuan beradaptasi dengan perkembagan tekhnologi,” kata Rudi Hermanto.
Pihaknya memandang, bahwa meraih peluang terhadap jenis pekerjaan baru hasil dari perkembangan teknologi berada di generasi millenial, karena generasi ini lebih cepat beradaptasi terhadap perkembangan teknologi terutama teknologi informasi dan teknologi artificial intelligence.
Generasi millenial yang mampu mengembangkan potensi imajiner kreatifnya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi tersebut pasti akan bertahan di masa akan datang.
“Persoalannya adalah R-APBD 2023 peruntukkannya diberbagai sektor yang berpotensi menyerap lapangan pekerjaan masih sangat berorientasi pada lapangan-lapangan pekerjaan yang mengandalkan kegiatan-kegiatan yang melibatkan fisik manusia dan jumlah peluangnya pun masih d bawah rata-rata angka pengangguran,” pungkasnya. (Dim)
