INDIESPOT.ID, Medan – Menonton film memang sering kali kita jadikan hiburan. Padahal lewat film kita bisa mengambil pelajaran berharga. Sama halnya dengan film dokumenter satu ini, The Tinder Swindler. Film dokumenter ini nggak cuma sangat menarik untuk ditonton tapi juga bisa memberikan pelajaran berharga. Karena film ini menuangkan cerita penipuan dengan orang asing lewat aplikasi kencan. Ih.., ternyata korban penipuan besar-besaran nggak cuma di film-film aja nih, tapi bisa terjadi di dunia nyata.
Sesuai dengan judulnya, penipuan terjadi diawali lewat aplikasi kencan Tinder dan dilakukan seorang penipu bernama Shimon Yehuda Hayut. Lahir dan besar di sebuah kota kecil di luar Tel Aviv, Israel, Shimon mengaku sebagai Simon Leviev, putra seorang pengusaha Israel yang dikenal sebagai “Raja Berlian”, yaitu Lev Leviev.
Dalam The Tinder Swindler, diceritakan bahwa Simon berhasil menipu tiga wanita dengan sejumlah besar uang. Salah satu korbannya adalah Cecilie Fjellhøy, wanita berusia 33 tahun yang tinggal di London. Akibat bujuk rayu Simon dan kepercayaan Cecilie padanya, berdarah Norwegia itu harus berutang hingga sebanyak $250.000 ke 9 bank berbeda.
Tim dokumenter memperkirakan, Simon berhasil menipu lebih dari $10 juta dari wanita di seluruh dunia dan bahkan pernah dipenjara (meskipun saat ini bebas).
Mungkin kamu berpikir bahwa kamu nggak akan ‘sebodoh’ itu dan mau ditipu oleh orang yang dikencani. Tapi please jangan terlalu yakin. Kejadian ini bisa menimpa siapa saja, termasuk kamu. Karena siapa pun dapat dimanfaatkan oleh orang lain, jika berada di situasi yang tepat (untuk ditipu).
Aplikasi kencan adalah tempat sempurna bagi penipu asmara untuk memangsa orang tidak bersalah yang percaya kalau jodohnya di luar sana dan berharap menemukan pangeran menawan. Apalagi saat kencan pertama kamu sudah diperlakukan layaknya seorang putri raja, kamu akan terpikat dan yakin bahwa dia adalah pasangan yang pas untukmu.
Harusnya, saat kamu diperlukan seperti itu, kamu tanyakan pada dirimu lagi, “Mengapa orang asing ini ingin menghabiskan banyak uang untuk kencan pertama denganku?” Bisa saja itu cuma trik dia untuk memulai menipumu.
So, sebenarnya ada beberapa tanda bahaya alias red flags yang bisa kita lihat saat berkencan dengan orang asing lewat aplikasi kencan, seperti yang dikisahkan dalam The Tinder Swindler.
1. Hindari hubungan yang bergerak cepat
Saat seseorang memiliki niat jahat padamu, dia harus bergerak cepat untuk mendapatkan kepercayaanmu supaya bisa dengan cepat juga mendapatkan apa yang diinginkan, lalu sesegera mungkin melarikan diri.
Kalau di dalam film The Tinder Swindler, setelah sebulan kencan, Simon sudah meminta Cecilie untuk mencari apartemen di London. Simon bahkan mengatakan bahwa bujet yang ia miliki sebesar $15.000 per bulan atau sekitar Rp215 juta. Wow, bujet yang fantastis bukan?
Ya, janji manisnya adalah supaya mereka bisa pindah bersama dan memulai sebuah keluarga sesegera mungkin. That was too good to be true, because it was fake!
2. Jangan terlalu percaya pada sesuatu yang ‘too good to be true’
Biasanya, semua yang terlihat terlalu bagus untuk menjadi sebuah kenyataan bukanlah kenyataan yang sesungguhnya. Itu semua hanya ilusi semata.
Terlebih lagi ketika seseorang tampak sempurna, kemungkinan ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Karena nggak ada yang sempurna di dunia ini. Memang sih kamu bisa aja benar-benar bertemu dengan pria tampan dan menawan, tapi jika kamu nggak melihat kekurangan apa pun dan dia langsung menyatakan cintanya kepadamu, coba deh dipikir-pikir lagi.
Ingat lho, penipu asmara akan membuat kamu merasa sangat dicintai di awal hubungan. Tujuannya supaya kamu merasa istimewa dan menciptakan ilusi bahwa kamu memiliki hubungan yang nyata.
3. Waspada pada orang yang terlalu pamer
Sebelum kamu swipe ke kanan di Tinder, ada tanda bahaya yang nggak boleh diabaikan, yaitu profil seseorang. Kamu Profil Jangan pernah berkencan dengan siapa pun yang menulis ‘pangeran berlian’ di profil Tinder mereka. Karena seorang miliarder nggak akan menggunakan Tinder. Kalaupun mereka ingin menggunakan aplikasi kencan, aplikasi yang digunakan lebih mungkin adalah Raya dan The League, aplikasi kencan berbasis keanggotaan yang memerlukan aplikasi dan izin untuk bergabung.
Penipu adalah seorang narsisis yang percaya kebohongan mereka sendiri. Mereka begitu tenggelam dalam delusi sehingga ketika menyusun profil di aplikasi kencan, delusi mereka itu dituliskan di sana.
4. Beri batasan tentang informasi pribadi
Saat kamu dan teman kencan sedang saling mengenal, normal memang untuk mengajukan pertanyaan. Tapi saat kamu mulai merasa seperti sedang diselidiki, itulah tanda bahaya yang harus diwaspadai.
Apalagi jika si teman kencan mulai bertanya hal yang umum tapi sebenarnya cukup pribadi, seperti nama ibumu, hewan peliharaan pertama, mobil pertama, tempat kamu dibesarkan, dan seterusnya. Patut dicurigai tuh!
Kalau dalam kasus Simon, dia sejak awal langsung bersikap personal dan bercerita tentang dirinya. Dia bercerita bahwa dia pernah bercerai dan memiliki anak. Dia juga mengatakan bahwa ia memiliki banyak musuh yang ingin mencelakainya dan hidupnya tak seindah bayangan orang-orang. Sikapnya yang seakan-akan terlihat rentan di depan Cecilie itulah, yang akhirnya membuat Cecilie mudah percaya padanya. Padahal itu semua hanya trik yang dilakukan Simon agar bisa mendapat kepercayaan dengan cepat.
5. Menghindar bertemu secara langsung
Meskipun kasus Simon cukup berbeda, tapi beberapa penipu umumnya selalu menunda kencan pertamanya denganmu. Masalahnya, kamu bahkan bisa jatuh cinta tanpa pernah bertemu langsung dengannya, karena kamu “terperangkap” dalam kata-kata manisnya.
So, kalau kamu belum bertemu langsung, nggak usah keburu jatuh cinta, deh. Apalagi kalau dia punya banyak alasan untuk nggak menemui kamu. Kalaupun pada akhirnya bertemu, kamu terlebih dahulu harus memastikan bahwa kamu nggak mendapati keempat tanda di atas agar nggak menjadi korban penipuan di aplikasi kencan.
Memang katanya cinta itu buta, tapi bukan berarti kamu nggak bisa melakukan berbagai macam cara supaya nggak menjadi buta dalam mencintai seseorang. Kamu nggak mau tertipu seperti Cecilie, kan? (Ika)
