Eks Rektor UIN Sumut Divonis 2 Tahun Penjara, Terbukti Korupsi Rp 10 Miliar

  • Whatsapp
ilustrasi korupsi (freepik)

Indiespot.id-Eks Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Saidurahman divonis hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan 2 tahun penjara, Senin (29/11).  Saidurahman terbukti melakukan korupsi biaya pembangunan Kampus Terpadu UINSU Medan pada tahun 2018, sebesar Rp10,3 miliar.

Dalam persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Jarihat Simarmata, hingga malam itu, hakim menegaskan  terdakwa bersalah.

Bacaan Lainnya

“Menyatakan terdakwa bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama,” ucap Hakim Jarihat.

Dalam amar putusannya, terdakwa terbukti melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana yang termuat dalam Pasal 3 jo Pasal 18 dari Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Selain Saidurrahman, hakim
juga memvonis dua terdakwa lainnya yakni, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada pekerjaan itu Syahruddin Siregar dan Direktur PT Multikarya Bisnis Perkasa, Joni Siswoyo selaku rekanan. Mereka divonis tiga tahun penjara.

Dalam persidangan ketiga terdakwa juga mendapat hukuman tambahan, yaitu membayar denda masing-masing, sebesar Rp500 juta, subsider 1 bulan kurungan.
Hukuman yang dijatuhkam ke Saidurahman lebih ringan dari tuntutan JPU yang meminta dia dihukum 3 tahun penjara.

Hal serupa juga dialami terdakwa Syahrudin Siregar dan Siswoyo. Mereka sebelumnya dituntut 3 tahun penjara. Atas vonis ini, baik terdakwa maupun jaksa menyatakan pikir-pikir.

Dalam dakwaan, kasus ini bermula pada tahun 2018. UINSU mendapat anggaran berdasarkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Nomor : SP-DIPA-025.04.2.424007/2018 untuk pembangunan gedung perkuliahan terpadu UINSU. Dananya bersumber dari dana APBN Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan nominal pagu anggaran sebesar Rp.50.000.000.000.

Dalam pelaksanaan pembangunannya terungkap Saidurahman meminta agar panitia pelelangan proyek pembangunan memenangkan PT Multikarya Bisnis Perkasa untuk melaksanakan proyek itu.
Singkat cerita, Panita Pokja memenangkan PT Multikarya Perkasa dengan dengan nilai kontrak Rp44.973.352.461.

Tapi belakangan, pembangunan gedung itu mangkrak dan berpotensi merugikan keuangan negara. Sesuai hasil audit kerugian negara sebesar Rp10.350.091.337,98 atau Rp10,3 miliar.